Ibu (koma) Kota Ini


Ibu, kota ini sibuk membungkus bingkis.
Mata manis, mulut sinis.
Mulut manis, hati amis.
Tak pernah jelas ada apa di balik tawa dan tangis.
Kau hapal kan, Bu, aku tak mau memakai rok polkadot jika motif bajuku garis-garis.
Sekarang, segalanya tak harmonis.

Ibu, kota ini hobi memelintir.
Aku terlalu lemah mencerna satir.
Pun tak cukup peka didamprat sindir.
Tak ada yang dapat dipahami oleh anakmu yang pandir.
Aku rindu omelanmu yang panjang itu, Bu.
Jernih. Amat jernih meski seribut petir.

Ketulusan yang kau junjung sekadar kujinjing.
Prasangka baik yang kau gadang kusempilkan di gudang.
Benda-benda itu terlampau usang di kota yang kini asing.
Kalah prestis dibanding pemikiran dan laku 'kritis.'
Aku hanya ikuti aturan main.
Jika tak sanggup melawan, menyamarlah menjadi kawan. Aman.

Ibu, kota ini ternyata tak semenyenangkan yang kau bicarakan.
Kejujuran dan ketulusanmu yang kurindukan.
Percaya dan maaf yang kau tanam tak lagi tumbuh.
Mungkin hanya sorot lembut matamu dan senyummu yang teduh yang membuat kami luluh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar