Ditinggal Kelas Pertama

Pagi tadi, pertama kali ke sekolah lagi setelah liburan akhir tahun ajaran. Setelah sampai depan pintu sekolah, gue kembali deg-degan. Rasanya sama kayak enam bulan lalu waktu mau memperkenalkan diri di depan anak-anak hehe. Bedanya, pagi tadi deg-degan gue lebih ke nggak sabar ngeliat kembali ekspresi menggemaskan para bocah, terutama anak kelas B yang selalu semangat nyambut kedatangan gue di depan pintu. Iya, sepanjang semester lalu mereka emang sering dateng lebih pagi dari gue.

Jelang masuk pintu sekolah, gue udah siap denger suara tinggi Malvino, "Kak Patiyaaah!" sambil lari ke arahku. Teriakannya seolah jadi komando bagi anak-anak lain untuk ikut lari menghampiri gue.

Di kepala gue udah kebayang sosok Al ngibrit buru-buru rapiin mainan, sebelum ikutan nyerbu ke arah gue. Antrean yang tadinya rapi, mendadak kisruh karena Al ngedorong teman-temannya dari belakang.

Kalau liat hal itu, sebelum gue sempat buka mulut, Deswita bakal udah lebih dulu ngomel, "Al kamu mah, ngantri dong! Sakit tau didorong-dorong."

Di saat anak lain sibuk dorong-dorongan, Zema cuma colek-colekan dari belakang sambil ngelirik-lirik gue. Dia anaknya emang kalem, tapi suka mau ikutan heboh kayak anak-anak lain meski jadinya keliatan kikuk. :')

Gavin juga cuma colek-colek dari belakang. Bedanya, di saat yang lain udah pada berhenti dorong-dorongan, dia justru suka mancing keributan lagi.

Setelah kerumunan bubar, Mirza baru mendekat, nyalim, lalu laporan, "Kak, masa tadi si itu lalala, si anu lilili." Anak lain pasti kepancing untuk laporan juga. Heboh lagi.

Biasanya, semua baru diam setelah dengar salam Mihdan yang datangnya selalu paling akhir. Tapi diamnya bentar doang, Mirza selalu punya banyak kisah untuk disetor tiap pagi haha. "Kak, aku udah daftar SD dong..Yes yes sebentar lagi masuk SD." Yak, heboh lagi. Begitu terus setiap hari.

Kanan-kiri: Gavin, Malvino, Mirza, Zema, Al, Deswita, dan anak kelas A angkatan 2014-2015.

Tapi pagi ini berbeda. Saat gue buka pintu dan masuk kelas...krik. Nggak ada yang jawab salam. Di kelas cuma ada 2-3 orang yang nggak gue kenal wajahnya. Bengong sampai akhirnya tersadar...ini tahun ajaran baru. Anak-anak kelas B semester lalu ya udah pada SD lah. Ternyata gini rasanya "ditinggal" anak yang bahkan cuma anak murid. Nggak kebayang pas jadi ibu dan "ditinggal" anak beneran nanti kayak apa. #naonFath

Hari pertama tadi berjalan agak berat. Anak-anak baru masih belum bisa lepas dari orang tuanya, masih susah dideketin. Tapi, capek seketika lenyap saat jelang pulang sekolah terdengar suara dari depan pintu, "Kaaaak! Sini! Mau nyalim,"

Aku. Bengong. Tapi. Hati. Plong. Nyeeeess.

MIRZA! Pakai seragam merah-putih! Senang, nggak nyangka, bangga, terharu. Rasanya seakan-akan dia udah dewasa, gagah aja gitu pakai baju SD hahaha.

Mirza udah jadi anak SD :")
Seperti biasa, usai nyalim, dia memborbardir gue dengan cerita-ceritanya. "Aku nggak jadi sekolah di Kwini, aku jadinya sekolah di Kenari. Guru aku namanya Ibu A dan B. Yang Ibu B galak." FYI, SD Kenari itu SD-ku dulu, dan ya Ibu B emang galak. :)))

Begitulah Mirza. Dua hari jadi murid SD. Baju putih-merahnya masih bersih. Ceritanya masih menggebu. Senyumnya masih lebar. Sorot matanya masih bersinar. Gerak tubuhnya masih lepas. Dan cita-citanya masih jadi tentara.

Setelah waktu bergulir, kuharap hanya seragamnya saja yang lusuh. Cukup warna merah dasinya saja yang memudar. Keceriannya tidak. Cita-citanya hampir pasti akan berubah. Tapi semoga bukan karena semangatnya melapuk dimakan rayap-rayap bangku sekolah.

Harapan yang sama untuk Al, Malvino, Zema, Deswita, Mihdan, dan Gavin. Aku kangen kalian. Makasih ya udah ngajarin aku banyak hal. Maaf kalau kehadiranku mungkin menciderai proses tumbuh-kembang kalian. Selamat tumbuh belajar dan berbahagia, Boboiboy-nya aku :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar