Tuan Menang Banyak

Jam menunjukkan pukul 09.15, waktu dimana kau biasanya muncul di sini dengan mata berkantung dan berlingkar hitam, seperti saat ini. Mungkin kau tidur larut setiap malam sampai-sampai matamu tak terbuka lebar meski mentari sudah cukup terang bersinar. Aku heran, kalau kau memang masih mengantuk, mengapa kau selalu datang di jam yang sama? Mengapa tidak sesekali kau undur waktumu ke mari untuk sekadar menambah waktu tidurmu barang 30 menit? Tidak ada yang menghukummu kalau kau datang lebih siang dari ini, Tuan.

Wah, lihat! Pagi ini ranselmu berwarna biru. Ransel baru ya, Tuan? Akhirnya kau mengganti ransel hitammu. Bukannya aku bosan dengan ransel hitammu, hanya saja aku gemas melihat lubang yang menganga di bagian bawah kiri ransel itu. Kalau buku catatan kecilmu jatuh di jalan, bagaimana?

Tuan, aku tak tahu apa isi buku kecilmu itu. Aku hanya tahu setiap ke sini kau selalu membawa buku itu. Sampul buku itu berwarna oranye dengan gambar pohon di sampul depan dan sebuah stiker kecil bergambar...singa memegang tongkat begitu persepsiku di sudut bawah sampul belakang. Belakangan baru kutahu bahwa itu adalah lambang tim sepak bola Chelsea setelah aku melihat gambar singa bertongkat seperti itu ada di  kaos biru bertuliskan "Chelsea Football Club" yang sering kau kenakan. Maklum, aku buta sepak bola, Tuan.

Tuan, tumben pagi ini kau tak memakai jaket? Padahal di luar sedang hujan. Udaranya juga cukup dingin, lho. Biasanya, hujan atau tidak kau memakai jaket, entah jaket jeans atau jaket katun berhoodie. Kalau boleh berpendapat, aku lebih suka melihatmu memakai jaket hoodiemu, Tuan. Jaket berwarna biru dongker dengan sedikit warna merah dan putih di bagian depan itu terlihat pas denganmu. Kalau kau memakai jaket, biasanya kau melepasnya setelah kau melepas ransel.

Kau tak pernah membawa ransel ke dalam. Kau hanya membawa laptop, telepon genggam, charger laptop, dan tentu saja buku kecilmu. Dompet cokelatmu juga tak pernah kau bawa. Pun pagi ini. Kau hanya mengambil sejumlah uang dan sebuah kartu dari dompet yang ada di ransel. Bedanya, ransel barumu ini hanya punya satu kantong, Tuan. Tidak ada kantong kecil seperti di ransel hitammu untuk menyimpan dompet. Kau nampak kesusahan menemukan dompet yang terjebak sekantong dengan barang-barang lain di dalam ranselmu.

Setelah semua barang-wajib-dibawa-ke-dalam sudah di tangan, kau bergegas ke dalam. Tuan, tunggu sebentar! Kau yakin tak ada yang tertinggal? Kakiku sibuk goyang-goyang. Sama sibuknya dengan otakku yang berpikir apakah aku harus memanggilmu atau membiarkanmu melupakan benda yang satu itu. Otakku belum tuntas menimbang, kau sudah membalikkan badan, berlari ke luar. Tak lama, kau kembali ke mejaku dengan benda itu di tangan kanan.

"Lupa banget gue ninggal helm di luar. Basah deh haha. Tolong titip ini juga ya...Mbak Putri?"

Tuan, aku tahu ransel yang kau gunakan dari ranselmu masih bagus, bolong, sampai kau mengganti ransel baru. Aku tahu dua model jaketmu, juga isi ranselmu. Aku tahu kebiasaanmu menyimpan dompet di ransel, bukan di saku celana. Aku tahu kau mungkin menyukai klub sepak bola Chelsea. Kusimpulkan dari stiker di belakang buku kecilmu dan kaos biru yang cukup sering kau pakai. Aku tahu kau mempunyai helm hitam yang banyak baret di sana-sini. Aku tahu tiga bulan terakhir setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu kau selalu ke sini. Datang tepat pukul 09.15 dengan mata pandamu, lalu keluar sekitar pukul 12 siang. Kadang kau kembali pada pukul 1 siang dan baru benar-benar pulang pada pukul 3 sore.

Aku tahu beberapa hal tentangmu, tapi dari papan nama yang baru dipasang di atas meja seketika kau tahu namaku. Tetap. Kau menang banyak, Tuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar