Tuan Menang Banyak (2)

Dua bulan berlalu sejak papan nama bertuliskan namaku bertengger di meja. Sejak itu, kau tak pernah luput menyebut namaku di ujung ucapan terima kasih atau permintaantolongmu. Seperti biasa, aku hanya membalas dengan "Iya, Mas," atau "Sama-sama, Mas".  Agar sopan dan karena aku tak tahu harus memanggilmu siapa, Tuan. Hingga sore itu datang. Tepat pukul 15.00. Kau keluar dari ruangan.

"Tolong nomer 37, Mbak Putri." Tuan, tanpa kau sebutkan nomer lokermu, aku tahu di loker mana ransel, jaket, dan helmmu tersimpan.
 
Tuan, hampir lima menit dan kau masih berdiri di depan meja sambil sesekali mengecek ponsel. Apa masih ada barang yang tertinggal di dalam loker, Tuan?

"Oh, nggak, Mbak. Gue lagi nunggu temen nih, orangnya belum dateng. Eh iya, di sini ada colokan nggak, Mbak? Hehe mau numpang ngecas hape sebentar, Mbak. Hape gue lowbat. Takutnya temen gue nyasar terus nggak bisa ngubungin gue kalau hape mati."

Sementara ponselmu dicas, jari-jariku merapikan tumpukan kartu di atas meja dan jari-jarimu tak henti mengetuk-ketuk meja membuat bunyi yang seirama dengan senandungan yang keluar dari mulutmu.

...dengan lembut mentari-Mu. Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

Lalu, tak ada bunyi dari jari maupun mulutmu. Lirik lagu berganti menjadi lirikan matamu. Ke arahku.

"Kamu juga tahu lagu itu?" pertanyaanmu sungguh mengagetkanku, Tuan.

"Itu, barusan kamu ikut nyanyi. Pakai lirik pula, padahal gue cuma ngegumam haha."

Apa, Tuan? Maksudmu lirik yang tadi aku dengar itu berasal dari mulutku sendiri? Aduh.

"Yaelah, santai aja, Mbak. Lo tahu lagu itu juga? Lagu Sheila on 7 yang itu kan nggak ngetop, wah berarti lo suka Sheila on 7 juga ya? Eh iya, kenalin. Nama gue Dimas," tanganmu terulur.

Jadi, namamu Dimas, Tuan?

Kusambut tanganmu sambil menyebutkan nama. Jelas tak perlu, tapi aku bingung Tuan harus menjawab apa selain itu. Tangan dan bibirku masih ingat caranya bergerak saja, aku sudah bersyukur.

"Hahaha iya, gue udah tahu," kau menunjuk papan namaku sambil tersenyum. "Kayaknya kita seumuran ya, nggak usah panggil 'mas' lah ke gue."

"Iya, Mas."

"Eh?" matamu mendelik.

"Ng...kan 'Mas' untuk 'Dimas'," Duh. Kembali aku mengutuki diri sendiri.

"Hahaha bisa aja. Jangan-jangan emang dari dulu lo manggil gue 'Mas' karena tahu nama gue Dimas?"

Tanpa menunggu jawabanku, kau memulai percakapan lagi. Percakapan ringan seputar 'Lihat, Dengar, Rasakan' mengalir begitu saja.

Aku sudah tahu namamu. Bersamaan dengan itu, kau tahu band idolaku. Tetap kau yang menang banyak, Tuan. Setidaknya, sejak itu aku merasa punya kesempatan untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan. Masih banyak lagu yang bisa kita diskusikan, Tuan. Betul begitu, Dimas?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar