Semester (ter)Pendek Sepanjang Masa

0
COM
Tanggal : 8 Februari-18 Februari 2015
Pukul    : 06.30-22.00 WIB
Ruang   : 204 
Mata Kuliah :
- Ilmu Kedokteran
- Ilmu Keperawatan
- Ilmu Komunikasi
- Sosiologi
- Ekonomi
- Manajemen
- Geografi
- Sejarah
- Psikologi
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Daerah
- Bahasa Arab
- Fikih
- Akidah Akhlak
- Quran Hadits
- Tata Boga
- Administrasi
- Pemasaran
Kapasitas Peserta : 3++

Sepuluh hari terakhir gue menghabiskan waktu di ruang 204.  Di sana, gue banyak dapat pelajaran luar biasa yang kadang bikin takjub, senang, bingung, takut, heran, malu atau malah ketampar. Sebut gue norak atau apa pun, tapi gue beneran dapat banyak hikmah 'terjebak' di dalam sana. Nggak perlu uang atau buku. Cukup modal sabar, ikhlas, tanggap, buka mata, buka telinga, buka hati, sama norak sedikit (apresiasi kejadian atau hal positif sekecil apa pun). Udah. Sekarang, kelas favorit gue bukan lagi H104 atau H3, tapi 204. :))

Inti dari sekian banyak pelajaran yang gue dapat adalah lakukan apa yang hati kita yakini. Supaya hati kita ngeyakinin sesuatu yang tepat, banyakin referensi dari sumber-sumber yang tepat dan bisa dipercaya. Sebelumnya, yang paling penting kita harus lebih dulu yakin sama yang Maha Membolak-balikan Hati agar semua referensi bisa dipahami dan diterapkan dengan bijak sesuai dengan ketentuan-Nya. Karena memang Allah yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki Ilmu.

Baru sehari nggak ke sana, rasanya aneh. Kangen banget belajar dari orang-orang dan segala kejadian di kelas itu, tapi gue nggak mau kalau harus ngulang kelas itu lagi hehe. Cukup sekali, tapi nggak akan gue lupain (makanya ditulis di sini) dan akan tetap jadi kelas favorit sepanjang masa.

Tuan Menang Banyak (2)

0
COM
Dua bulan berlalu sejak papan nama bertuliskan namaku bertengger di meja. Sejak itu, kau tak pernah luput menyebut namaku di ujung ucapan terima kasih atau permintaantolongmu. Seperti biasa, aku hanya membalas dengan "Iya, Mas," atau "Sama-sama, Mas".  Agar sopan dan karena aku tak tahu harus memanggilmu siapa, Tuan. Hingga sore itu datang. Tepat pukul 15.00. Kau keluar dari ruangan.

"Tolong nomer 37, Mbak Putri." Tuan, tanpa kau sebutkan nomer lokermu, aku tahu di loker mana ransel, jaket, dan helmmu tersimpan.
 
Tuan, hampir lima menit dan kau masih berdiri di depan meja sambil sesekali mengecek ponsel. Apa masih ada barang yang tertinggal di dalam loker, Tuan?

"Oh, nggak, Mbak. Gue lagi nunggu temen nih, orangnya belum dateng. Eh iya, di sini ada colokan nggak, Mbak? Hehe mau numpang ngecas hape sebentar, Mbak. Hape gue lowbat. Takutnya temen gue nyasar terus nggak bisa ngubungin gue kalau hape mati."

Sementara ponselmu dicas, jari-jariku merapikan tumpukan kartu di atas meja dan jari-jarimu tak henti mengetuk-ketuk meja membuat bunyi yang seirama dengan senandungan yang keluar dari mulutmu.

...dengan lembut mentari-Mu. Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

Lalu, tak ada bunyi dari jari maupun mulutmu. Lirik lagu berganti menjadi lirikan matamu. Ke arahku.

"Kamu juga tahu lagu itu?" pertanyaanmu sungguh mengagetkanku, Tuan.

"Itu, barusan kamu ikut nyanyi. Pakai lirik pula, padahal gue cuma ngegumam haha."

Apa, Tuan? Maksudmu lirik yang tadi aku dengar itu berasal dari mulutku sendiri? Aduh.

"Yaelah, santai aja, Mbak. Lo tahu lagu itu juga? Lagu Sheila on 7 yang itu kan nggak ngetop, wah berarti lo suka Sheila on 7 juga ya? Eh iya, kenalin. Nama gue Dimas," tanganmu terulur.

Jadi, namamu Dimas, Tuan?

Kusambut tanganmu sambil menyebutkan nama. Jelas tak perlu, tapi aku bingung Tuan harus menjawab apa selain itu. Tangan dan bibirku masih ingat caranya bergerak saja, aku sudah bersyukur.

"Hahaha iya, gue udah tahu," kau menunjuk papan namaku sambil tersenyum. "Kayaknya kita seumuran ya, nggak usah panggil 'mas' lah ke gue."

"Iya, Mas."

"Eh?" matamu mendelik.

"Ng...kan 'Mas' untuk 'Dimas'," Duh. Kembali aku mengutuki diri sendiri.

"Hahaha bisa aja. Jangan-jangan emang dari dulu lo manggil gue 'Mas' karena tahu nama gue Dimas?"

Tanpa menunggu jawabanku, kau memulai percakapan lagi. Percakapan ringan seputar 'Lihat, Dengar, Rasakan' mengalir begitu saja.

Aku sudah tahu namamu. Bersamaan dengan itu, kau tahu band idolaku. Tetap kau yang menang banyak, Tuan. Setidaknya, sejak itu aku merasa punya kesempatan untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan. Masih banyak lagu yang bisa kita diskusikan, Tuan. Betul begitu, Dimas?

Tuan Menang Banyak

0
COM
Jam menunjukkan pukul 09.15, waktu dimana kau biasanya muncul di sini dengan mata berkantung dan berlingkar hitam, seperti saat ini. Mungkin kau tidur larut setiap malam sampai-sampai matamu tak terbuka lebar meski mentari sudah cukup terang bersinar. Aku heran, kalau kau memang masih mengantuk, mengapa kau selalu datang di jam yang sama? Mengapa tidak sesekali kau undur waktumu ke mari untuk sekadar menambah waktu tidurmu barang 30 menit? Tidak ada yang menghukummu kalau kau datang lebih siang dari ini, Tuan.

Wah, lihat! Pagi ini ranselmu berwarna biru. Ransel baru ya, Tuan? Akhirnya kau mengganti ransel hitammu. Bukannya aku bosan dengan ransel hitammu, hanya saja aku gemas melihat lubang yang menganga di bagian bawah kiri ransel itu. Kalau buku catatan kecilmu jatuh di jalan, bagaimana?

Tuan, aku tak tahu apa isi buku kecilmu itu. Aku hanya tahu setiap ke sini kau selalu membawa buku itu. Sampul buku itu berwarna oranye dengan gambar pohon di sampul depan dan sebuah stiker kecil bergambar...singa memegang tongkat begitu persepsiku di sudut bawah sampul belakang. Belakangan baru kutahu bahwa itu adalah lambang tim sepak bola Chelsea setelah aku melihat gambar singa bertongkat seperti itu ada di  kaos biru bertuliskan "Chelsea Football Club" yang sering kau kenakan. Maklum, aku buta sepak bola, Tuan.

Tuan, tumben pagi ini kau tak memakai jaket? Padahal di luar sedang hujan. Udaranya juga cukup dingin, lho. Biasanya, hujan atau tidak kau memakai jaket, entah jaket jeans atau jaket katun berhoodie. Kalau boleh berpendapat, aku lebih suka melihatmu memakai jaket hoodiemu, Tuan. Jaket berwarna biru dongker dengan sedikit warna merah dan putih di bagian depan itu terlihat pas denganmu. Kalau kau memakai jaket, biasanya kau melepasnya setelah kau melepas ransel.

Kau tak pernah membawa ransel ke dalam. Kau hanya membawa laptop, telepon genggam, charger laptop, dan tentu saja buku kecilmu. Dompet cokelatmu juga tak pernah kau bawa. Pun pagi ini. Kau hanya mengambil sejumlah uang dan sebuah kartu dari dompet yang ada di ransel. Bedanya, ransel barumu ini hanya punya satu kantong, Tuan. Tidak ada kantong kecil seperti di ransel hitammu untuk menyimpan dompet. Kau nampak kesusahan menemukan dompet yang terjebak sekantong dengan barang-barang lain di dalam ranselmu.

Setelah semua barang-wajib-dibawa-ke-dalam sudah di tangan, kau bergegas ke dalam. Tuan, tunggu sebentar! Kau yakin tak ada yang tertinggal? Kakiku sibuk goyang-goyang. Sama sibuknya dengan otakku yang berpikir apakah aku harus memanggilmu atau membiarkanmu melupakan benda yang satu itu. Otakku belum tuntas menimbang, kau sudah membalikkan badan, berlari ke luar. Tak lama, kau kembali ke mejaku dengan benda itu di tangan kanan.

"Lupa banget gue ninggal helm di luar. Basah deh haha. Tolong titip ini juga ya...Mbak Putri?"

Tuan, aku tahu ransel yang kau gunakan dari ranselmu masih bagus, bolong, sampai kau mengganti ransel baru. Aku tahu dua model jaketmu, juga isi ranselmu. Aku tahu kebiasaanmu menyimpan dompet di ransel, bukan di saku celana. Aku tahu kau mungkin menyukai klub sepak bola Chelsea. Kusimpulkan dari stiker di belakang buku kecilmu dan kaos biru yang cukup sering kau pakai. Aku tahu kau mempunyai helm hitam yang banyak baret di sana-sini. Aku tahu tiga bulan terakhir setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu kau selalu ke sini. Datang tepat pukul 09.15 dengan mata pandamu, lalu keluar sekitar pukul 12 siang. Kadang kau kembali pada pukul 1 siang dan baru benar-benar pulang pada pukul 3 sore.

Aku tahu beberapa hal tentangmu, tapi dari papan nama yang baru dipasang di atas meja seketika kau tahu namaku. Tetap. Kau menang banyak, Tuan.

(Maunya) Kado Ultah ke-21 Nanti

4
COM
Sore tadi seorang sahabat bergurau bahwa untuk ulang tahun gue tahun ini dia akan membawakan si X (nama disamarkan) sebagai kado ulang tahun. Awalnya gue cuma ketawa, tapi nggak lama gue jadi sedih (lagi baper emang hari ini). Gue sedih karena ucapan dia bikin gue jadi keingetan tiga orang sahabat gue. Ismi, Syarifah, Alfia.

Ismi, Syarifah, Alfi merupakan sahabat gue sewaktu bersekolah di SD Negeri Pondok Terong 01. Gue kenal mereka dari semester dua kelas 3 sampai akhir kelas 4 SD. Waktu itu gue anak baru di sekolah itu, tapi mereka dan anak-anak lain ramah banget nyambut kehadiran gue. Nggak butuh waktu lama buat gue bisa berbaur, dekat, dan terbuka sama mereka. Padahal, di sekolah sebelumnya gue agak tertutup dan jarang main sama anak-anak lain meski udah tiga tahun kenal. Sayangnya, komunikasi kita putus sejak gue pindah rumah dan pindah sekolah pas kelas 5. Bocah seumuran kita pada saat itu nggak punya handphone, media sosial juga belum seheboh sekarang. Ditambah di rumah baru gue nggak ada telepon, jadilah komunikasi kami putus seputus-putusnya. Sedih? Banget. Kangen? Banget. Sampai sekarang gue masih suka nyari mereka di dunia maya dengan keyword yang cuma "Ismi", "Syarifah", dan "Alfi". Nggak usah ditanya gimana hasilnya. Yang jelas, lupa nama lengkap mereka termasuk dalam 10 hal yang paling gue sesali di dunia ini. *ciye*

Itu sore. Lalu, malamnya gue ngeliat akun twitter @poscinta yang lagi bikin event #30harimenulissuratcinta. Ternyata, tema surat cinta untuk hari ini lumayan pas sama mereka yang lagi gue pikirin. Jadi, di sini gue mau menulis surat cinta untuk mereka.




Ehem. Hai Ismi, Syarifah, Alfi...
Gimana kabar kalian? Baru nyapa sekarang karena nggak tau mesti nyapa lewat apaan haha. Kalian masih rebutan ranking 1 nggak setelah aku pindah sekolah? Saingan berkurang satu tuh hahaha. Jadinya siapa yang ranking 1, 2, dan 3? Kalian masih jadi dokter cilik kan sampai kelas 6? Terus pada jadi ikut lomba bikin cerpen nggak? Eh bentar, kalian masih pakai 'kita' nggak sih buat nyebut diri sendiri? Kelakuan anak Citayam! :)) Kangen deh sama kalian. Kangen belajar bareng, main bareng, berangkat-pulang sekolah bareng. Kangen main bareng di rumah Ismi terus dimasakkin telur dadar kecap sama ibunya. Kangen diajarin ngomong Sunda, ngomong ala bocah Depok tepatnya haha.

Ismi, Syarifah, Alfi...Kalian inget nggak sih, pertama kali aku dateng ke sekolah itu, aku bikin kalian bertiga berantem. Aku lupa sih persisnya gimana, kalau nggak salah waktu itu aku dekat sama salah satu dari kalian, terus dua orang yang lain ngerasa temannya aku ambil terus yang satu orang dekat sama aku itu dimusuhin. Deramah khas anak SD. :') Untung nggak lama, dan setelah itu malah aku bisa dekat sama semuanya, sama kalian bertiga. Ngomong-ngomong, kalian lanjut SMP dimana? SMA? Kuliah?

Ismi, Syarifah, Alfi...kalian punya facebook atau twitter nggak sih? Sumpah, susah banget nyari kalian di dunia maya. Salah aku juga sih lupa nama lengkap kalian. Cuma nyari "Ismi", "Syarifah", "Alfi" ya wajar kalau nggak pernah membawa aku ke kalian. Kalian pernah nyari namaku nggak di internet? Hehe cuma "Fathiyah" juga nggak akan bawa kalian ketemu aku. Paling kalian ketemunya sinetron Fathiyah si tarzan itu. Jadi, kalau kalian baca ini, kalian aja ya yang add facebook ku; Fathiyah Thia, hahaha.
 
Ismi, Syarifah, Alfi...kalau aku punya kesempatan untuk ngubungin kalian, aku nggak berharap macam-macam kok. Aku nggak akan ganggu kalian atau maksa untuk jalin persahabatan kayak dulu lagi. Kehidupan kita udah jalan masing-masing. Bisa dibilang udah nggak ada lagi irisannya. Wajar kalau kita ternyata udah nggak bisa seakrab dulu. Jangan kan sama kalian, hubunganku sama teman-teman lamaku yang lebih baru dari kalian aja, bisa berubah. Makin jarang ketemu, makin jarang komunikasi, makin bingung gimana caranya mulai percakapan lebih dulu. Aku suka ngerasa nggak berhak ngubungin teman lama kalau cuma pengin tahu kabar atau sekadar bilang kangen. Dulu sih aku sedih banget tiap ada teman lama yang 'berubah'. Tapi makin ke sini aku makin ngerti dan nerima kalau nggak ada yang salah sama hal itu. Mereka berubah, aku juga berubah. Rutinitas, aktivitas, kebiasaan, cara pikir, sudut pandang, sikap, prioritas setiap dari kita berubah. Nggak heran kalau preferensi dan frekuensi dalam pertemanan juga berubah, dari cocok jadi nggak cocok, atau sebaliknya. Bahkan ada yang bilang "hidupmu nggak berkembang kalau pertemananmu nggak berubah". Aku mengamini hal itu.

Ismi, Syarifah, Alfi...tapi berubah bukan berarti dari kawan jadi lawan, kan? Silaturahmi tetap bisa dijaga meski mungkin nggak bisa seakrab dan secair dulu. Nggak cocok lagi bukan berarti membuang teman lama begitu aja. Kalau nanti aku tahu medsos, tempat tinggal, atau nomer handphone kalian, aku boleh kan nyapa kalian untuk nanya kabar dan bilang kangen?

Ismi, Syarifah, Alfi...sebentar lagi aku ulang tahun lho. Umurku udah mau 21 tahun, kalian juga kan? Waktu itu umur kita masih sepuluh tahun, sekarang udah pada mau 21 tahun. Kayak apa coba wujud kalian? Oya, masa ada temanku yang bercanda mau ngedatengin X (seorang temanku yang lain) sebagai kado di hari ulang tahunku. Tahu nggak, aku nggak butuh X haha. Kalau beneran temanku itu bisa 'ngasih' manusia sebagai kado, aku mau manusia yang dia bawa itu kalian. Nggak kebayang gimana senangnya kalau beneran bisa ketemu kalian lagi.

Ismi, Syarifah, Alfi...rasanya nggak mungkin temanku itu bisa menghadirkan kalian sebagai kado ulang tahunku yang ke-21, tapi nggak masalah. Kalau emang jodoh, insya Allah kita bisa ketemu lagi entah kapan dan gimana caranya. Kalau nggak ketemu? Ya berarti masa berlaku kita berjodoh cuma 1,5 tahun itu. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, cepat atau lambat. Aku nggak nyesel berpisah dengan kalian. Katanya, perpisahan itu sepaket dengan pertemuan; mengutuki perpisahan sama dengan menyesali pertemuan. Aku bersyukur banget pernah ketemu kalian!

Makasih ya udah jadi sahabat-sahabat pertamaku, Ismi, Syarifah, dan Alfi. Makasih udah nyediain satu tempat di antara kalian buat orang baru kayak aku. Tetap tumbuh cantik di manapun kalian berada. :D

Salam kangen dari kita.
Fathiyah, anggota ke-4 Geng Flowers.