Wanita yang Kami Sayangi

Dia yang ditinggal ayahnya saat berusia 8 tahun. Menjadikannya gadis kecil dengan tanggung jawab besar; mengasuh lima orang adik.

Dia yang amat diproteksi kakeknya dalam berinteraksi dengan lelaki. Sampai di usianya yang ke 33 ia diminta menemui lelaki yang dibawa pamannya. Padahal peraturan kakeknya jelas; anak gadis tidak boleh menemui tamu laki-laki. Ia sengaja berpenampilan kucel sebab tak mau dinikahi "anak kecil" yang 9 tahun lebih muda darinya. Selain itu, ia juga menyukai laki-laki lain. Laki-laki yang lebih mapan dan berpendidikan.

Dia yang hidupnya tak macam-macam. Pada akhirnya hanya ridho Allah dan orang tua yang ingin ia genggam. Ia memimpikan sosok "anak kecil" yang dibawa pamannya bersinar dan tinggi besar, sementara laki-laki yang ia sukai menjadi sosok yang kecil. Ia pun yakin menerima pinangan si "anak kecil". Menjadikannya suami, lalu ayah dari keempat anak mereka. Ayahku.

Dia yang punya jawaban khas saat anaknya bertanya mengapa ia 'telat' menikah. "Ibu kan nungguin Ayah gede dulu. Kalau Ibu nikah di umur 23-24, Ayah masih di bawah umur." Kelakar yang serius. Penuh rasa syukur.

Dia yang pandai menempatkan diri. Perilakunya tak pernah menggurui Ayah. Ia juga pandai merawat diri. Penampilannya yang awet muda tak pernah terlihat tua untuk mendampingi Ayah.
 
Dia yang menjadi guru pertama bagi keempat anaknya. Mengajarkan baca, tulis, hitung dengan penuh tawa. Berapa pun nilai anaknya di sekolah, ia selalu tersenyum. Tak pernah ada target khusus darinya asal anak-anaknya berusaha.

Dia yang selalu menampung riang dan keluh kesah anak-anaknya sepulang sekolah. Perhatian dan penerimaannya terhadap segala cerita membuat anak-anaknya terdorong untuk berkisah tanpa ditanya.
 
Dia yang masakannya mampu membuat Ayah dan anak-anaknya rela tidak makan di luar agar kuat banyak-banyak makan di rumah. Ia memasak makanan yang suami dan anak-anaknya gemari, sekali pun tidak ia sukai. Kalau sudah begitu, ia akan membuat telur dadar atau indomie untuk dirinya sendiri.

Dia yang paling lama terjaga karena selalu saja ada yang harus ia kerjakan; menyapu, mengepel, memasak, mengangkat jemuran, mencuci, atau menyetrika. Belum lagi pekerjaan tambahan yang diberikan oleh anak-anaknya yang belum mandiri.

Dia yang sering tertidur saat menonton televisi, namun segera bangun setelah ada yang mematikan televisinya. "Kok dimatiin? Kan ibu lagi nonton?" protesnya yang kerap disambut tawa oleh siapa saja yang tahu betul kalau sebelumnya ia pulas tertidur.

Dia yang pertama dicari setiap ada barang hilang di dalam rumah karena kebiasaannya membuang barang printilan yang tercecer. Namun ia juga yang sering menemukan barang yang anak-anaknya cari meski sebelumnya ia tidak bersinggungan dengan benda tersebut. Ia bagai terkoneksi dengan semua benda yang ada di rumah, kecuali dengan kaca matanya. Satu benda yang paling sering ia tanyakan keberadaannya.

Dia yang selalu tak nafsu makan saat ada anggota keluarga yang punya masalah. Jika ia sering melamun padahal Ayah dan keempat anaknya baik-baik saja, coba tanya kondisi ibunya atau kelima adiknya atau pasangan dari kelima adiknya atau anak-anak dari kelima adiknya atau saudara Ayah di kampung sana. Hatinya amat luas hingga mereka semua muat.

Dia yang mencandu harmoni. Keahliannya adalah mengalah agar tak ada pecah. Ia yakin Allah punya skenario terbaik untuk setiap hamba. "Rejeki nggak kemana," semacam slogan yang selalu ia promosikan kepada anak-anaknya.
 
Dia yang membuat anaknya paham makna 'memberi tak harap kembali'. Terima kasih untuknya. Untuk ibu yang kami sayangi.

1 komentar: