Diam?


Gemerincing gantungan pintu kembali terdengar, membuatku kembali mendongakkan kepala untuk melihat ke sana. Dengan segera aku memasukkan bukuku ke dalam tas. Meski mataku minus, tanpa kacamata sekali pun aku tahu siapa yang baru saja membuka pintu; Ara, gadis yang gemar memakai kemeja kebesaran dan tas besar di balik punggungnya. Ia berdiri di sana sembari menoleh ke kiri ke kanan seperti mencari sesuatu. Seseorang tepatnya. Aku.

Sengaja kubiarkan ia sibuk mengedarkan pandangan ke penjuru cafe. Toh, di tempat seramai dan sebesar apa pun, matanya yang besar dan jernih selalu mampu menangkap keberadaanku. Hanya matanya.

"Di!" Ia berteriak memanggilku sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi seolah lupa ini tempat umum. Setelah aku membalas lambaiannya, ia berjalan ke arahku. Aku sangat menikmati momen seperti ini. Momen dimana ia mencariku, lalu melihatku, menemukanku, sampai akhirnya menghampiriku. Ini alasan sesungguhnya mengapa aku membiarkannya celingukan di depan pintu.

Seketika ia sudah berdiri di sampingku, memegang kedua bahuku dan menggoncangkannya keras-keras,
"Diaz! Aaaak aku kangen banget sama kamu!" Ia berteriak seolah jarak di antara kami masih seperti saat ia berdiri di depan pintu tadi.

"Iya, Ra iya tapi..."

"Hehe sakit ya? Maaf," ia melepaskan genggamannya di bahuku, lalu duduk di kursi di hadapanku.

Ara memang seperti itu. Berbeda denganku yang kerap menyembunyikan perasaan, ia selalu spontan dan apa adanya. Ini pertemuan pertama kami setelah tiga minggu lalu ia pergi berlibur ke kampung halaman ibunya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung janjian bertemu di sini. Ia gemar bercerita. Menunda bertemu denganku sekali pun untuk mengistirahatkan tubuhnya ia anggap sebagai kegiatan membuang waktu yang bisa membasikan cerita-ceritanya. Katanya, ia punya banyak pengalaman seru selama di sana. Sebanyak itu juga kupastikan aku akan melihat matanya bekerjap-kerjap penuh semangat.

Hampir dua jam. Tak terhitung sudah berapa kali kerjapan matanya muncul. Ia betul-betul bahagia. Ceritanya tak ada habisnya, sama seperti kekagumanku padanya yang juga tak ada habisnya. Bedanya, ia menunjukkan kisah-kisahnya sementara aku menutupi rapat-rapat kekagumanku padanya.

Sebenarnya dulu aku kerap menunjukkan kepadanya -tidak secara langsung bahwa aku menyukainya. Tapi nihil. Ia tak pernah bergeming. Menunjukkan perasaan secara jelas saja aku bermasalah, apalagi menunjukkan secara tersirat seperti itu. Ah sudahlah, aku memang tak pandai menunjukkan perasaanku. Akhirnya kuputuskan untuk benar-benar menyimpannya sendiri.

"Eh iya, di sana aku ketemu keponakanku. Dulu dia masih bayi, sekarang udah kelas 1 SD haha. Lucu deh, dia kalau mau apa-apa suka ngasih kode gitu," Ara membuka topik cerita baru.

Aku mengaduk secangkir kopi susu yang baru kupesan lagi. Satu cangkir tak pernah cukup untuk menemani pertemuanku dengan Ara. "Maksudnya?" tanyaku sebelum menyeruput kopi. Manisnya pas.

"Misalnya nih pas aku lagi makan es krim, dia bakal deketin aku dan bilang 'Es krimnya enak kan, Tante? Aku juga suka es krim itu' gitu."

"Itu kode? Artinya?"

"Artinya, dia mau minta es krimku!" ujarnya sambil menganggukan kepala dan mengangkat telunjuk ke arahku. Dia memang perempuan paling sok tahu yang kukenal. Ia juga tak mau kalah. Namun, karena sifatnya yang itu lah aku bisa berlama-lama mengobrol dengannya karena ia tak akan mau mengakhiri pembicaraan sampai lawan bicaranya mengakui bahwa ia memang benar. Bukan, ia bukan penganut keyakinan "perempuan selalu benar sementara laki-laki kadang salah, kadang nggak benar". Bukan. Ia hanya perempuan berpengetahuan luas yang kerap gemas jika ada lawan bicaranya yang sesat pikir.

"Loh, bisa aja kan dia emang cuma memberi tahumu kalau dia suka es krim itu dan dia mau tahu pendapatmu tentang es krim itu. Sudah." Aku tersenyum. Siap memulai perdebatan panjang.

Tidak seperti Ara yang biasanya membeberkan fakta dalam berargumentasi, kali ini ia hanya mengungkapkan contoh kasus sejenis dan terus-terusan menyampaikan hal seperti, "aku yakin itu kode" "beneran deh, dia punya maksud lain" yang sama sekali tidak membuktikan bahwa keponakannya itu memang benar memberinya 'kode'. Kurang seru, batinku. Sampai satu pernyataan meluncur begitu saja dari mulutku, "Dia belum tentu main kode-kodean, Ra. Lagi pula kalau dia emang ngasih kode, belum tentu artinya sama seperti dugaanmu. Kamu sok bisa baca kode, padahal selama bertahun-tahun aku kodein kamu kalau aku suka kamu, kamu nggak pernah sadar kan,"

Ara tersenyum tipis. Senyumnya mengembalikan kesadaranku. Ya Tuhan, apa yang tadi kukatakan. Panik, aku meneguk kopiku. Hambar. Diam-diam kucuri lirik ke arah Arah. Ia menarik napas panjang, lalu membanting tubuhnya ke sandaran kursi. Tenang. Tidak seperti Ara yang sebelumnya.

"Kamu tahu Di, kenapa aku tahu kalau keponakanku itu nggak mengatakan maksud yang sebenarnya?" tanyanya memecah kesunyian di antara kami. Aku menggeleng.

"Tiap kali setelah dia ngomong sesuatu ke aku, dia nangis. Setelah berulang kali, akhirnya aku sadar kalau sebenarnya ada sesuatu yang ia mau, tapi nggak aku wujudin. Saat hal itu terulang lagi dan dia nangis lagi, aku tanya ke dia 'kamu mau ini?', dia mengangguk dan berhenti nangis. Jadi, terbukti kan kalau yang dia ucapin sebelumnya memang kode?"

Ia tersenyum penuh kemenangan. Aku heran mengapa di saat seperti ini ia tetap berusaha membuktikan kebenarannya dan malah tak bereaksi dengan perkataanku. Aku lega, sekaligus cemas.

"Iya, kamu benar." Aku terpaksa bersuara. Berusaha bersikap senormal mungkin.

"Lalu, aku ngomong ke dia kalau mau sesuatu dari orang lain, kita harus bilang ke orang itu dengan terus terang. Haha setelah itu dia benar-benar secara jelas minta apa-apa yang dia mau dariku." Ia menatapku tajam.

"Soal kode darimu..." Ia menggantung kalimatnya, juga napasku. Aku, yang sedang berpura-pura sibuk dengan cangkir kopiku, sangat terkejut dengan perkataannya.

"..kau pikir aku nggak ngerti? Kau berbeda dengan keponakanku. Dia belajar dari kesalahannya dan berani mencoba mengungkapkan keinginannya. Dia nggak sepertimu yang pengecut. Terus-terusan ngasih kode berharap orang lain mengerti maksudmu. Saat kau putus asa dengan kode-kodemu, bukannya mencoba menyampaikan maksud secara terang kau malah bungkam. Nggak lagi melakukan apa pun. Udah berapa kali aku membentakmu agar lebih berani jujur sama orang lain, agar orang lain nggak melulu menyakitimu cuma karena mereka nggak tahu kalau kamu sakit karena mereka?! Hal itu juga yang kuharap bisa kau tunjukkan saat berurusan denganku."

Suaranya bergetar. Bergantung air di sudut matanya. Ara sangat jarang menangis di hadapanku. Ia hanya menangis saat ia merasa telah mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Aku ingin menghampirinya, merangkulnya, dan mengatakan bahwa aku sama sekali tidak pernah kecewa atau dibuat sakit olehnya. Tapi perkataannya sudah membekukan sekujur tubuhku.

"Keponakanku masih kecil, Diaz! Dia juga baru kenal aku. Tapi kamu, kamu laki-laki dewasa yang sudah hampir lima tahun mengenalku." Ia diam. Tangisnya berhenti.

"Ra..."

Ia berjalan menghampiriku, menepuk bahuku keras sekali, "Hahaha maaf ya Di selama ini aku bertingkah seolah aku nggak tahu apa-apa. Aku cuma mau kamu paham kalau hati mau dilihat dan didengar, kamu harus menyuarakan dan menunjukkan isi hatimu. Lagipula kalau kamu tahu kalau aku tahu kamu suka aku, terus apa? Kamu bakal tetap diam kan?"

Belum sempat aku bereaksi, ia sudah kembali ke kursinya, mengangkat tas besar yang sedari tadi bertengger di kaki meja, lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama, terdengar suara gemerincing dari arah pintu cafe. Ia meninggalkanku terpaku di kursi. Tak paham dengan apa yang baru saja terjadi.

Suara gemerincing gantungan pintu terdengar lagi. Aku menoleh setelah mendengar namaku dipanggil dari arah sana. Ara kembali. Berteriak dari depan pintu.

"Diaz! Yang barusan itu kode. Kita gantian ya sekarang. Kamu yang harus mecahin kodenya."

Gemerincing gantungan pintu kembali berbunyi. Mengiringi kepergian Ara. Ia menyisakan puluhan pertanyaan yang kencang terdengar, dalam hati dan benakku. Hanya satu pertanyaan yang kutahu pasti bahwa jawabnya bukanlah diam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar