Lelaki yang Kami Banggakan

2
COM
Dia yang saat kecil lebih sering di sawah daripada di bangku sekolah. Membantu orang tua menanam padi atau mengangon kambing.

Dia yang tak pernah lulus SD karena di usianya yang ke dua belas memilih ikut kakaknya berdagang di ibu kota. 

Dia yang pandai mengelola uang sejak remaja. Saat remaja, hasil jualan ia tabung dengan rumus 1/3. Sepertiga untuk hidupnya sehari-hari, sepertiga untuk orang tuanya, dan sepertiga untuk mewujudkan cita-citanya; pergi haji. Impiannya itu terwujud sesaat sebelum ia menikah.

Dia yang saat muda rajin mengikuti pengajian di masjid-masjid. Sampai suatu hari ia nekat menghampiri gurunya, seorang ulama yang cukup disegani, untuk meminta dicarikan calon istri. Saat itu umurnya 24 tahun. Entah apa yang membuat gurunya sepercaya itu pada sosoknya, tak tanggung-tanggung ia dikenalkan dengan keponakan sang guru.

Dia yang saat itu tidak mudah menyerah dengan sikap tak acuh keponakan sang guru. Dia, yang entah dengan ilmu apa pada akhirnya membuat perempuan itu memimpikannya. Perempuan itu bermimpi melihatnya sebagai sosok yang bersinar dan lebih besar dari laki-laki lain yang sedang mendekatinya. Mereka belum mengenal satu sama lain. Hanya sosoknya dalam mimpi yang pada saat itu membuat sang perempuan mantap menerima pinangannya. Ia menjadikan perempuan itu istrinya, sekaligus ibu dari keempat anak mereka. Ibuku.

Dia yang selalu haus dengan ilmu meski sudah berkeluarga. Ia memanggil guru mengaji ke rumah untuk memperdalam ilmu agama. Ia juga mendaftarkan diri di lembaga pendidikan bahasa Arab. Ditolak dengan alasan tidak memiliki ijazah, maka tidak bisa mendapatkan sertifikat. "Saya nggak butuh sertifikat. Saya cuma mau belajar." Ucapannya menjadi tiket masuk untuknya belajar di sana dan di beberapa tempat lain setelahnya.

Dia yang bisa memperbaiki keran, kipas angin, televisi, mesin air, hingga mesin cuci. Ia bisa memasang kancing di seragam sekolah anaknya. Dia juga bisa memijit. Dia bisa menenangkan Ibu yang mudah cemas. Dia laki-laki serba bisa.

Dia yang selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah. Bermodalkan satu tubuh yang tak pernah lelah bolak-balik sekolah-rumah-sekolah sebab keempat anaknya tak muat diangkut dengan satu motor.

Dia yang meleburkan dirinya bukan hanya dengan keempat anaknya, melainkan juga dengan puluhan bahkan ratusan anak-anak di sekitar rumah. Ia membuat ruang tamu rumah ramai di malam hari dengan anak-anak yang belajar mengaji. Jumlah anak kecil terus bertambah, namun luas ruang tamu tak berubah. Dia membagi jam mengaji menjadi pagi, siang, sore. Kini, ruang tamu rumah hanya sepi di malam hari.

Dia yang pusing jika piringnya dipenuhi banyak lauk, membuat Ibu selalu dikomentari penjual nasi uduk. "Masa Bapak makannya gini doang sih, Bu. Kasian amat," kata penjual nasi uduk tiap melihat nasi yang Ibu beli hanya ditemani telur atau orek tempe. Tidak pernah telur dan orek tempe.

Dia yang tak pernah kehabisan humor untuk ditertawakan bersama di ruang tengah. Bahan bernama 'masalah' sekali pun bisa ia tunjukkan sisi lucunya. Ia tak pernah pula kehabisan ide untuk menjahili anak-anaknya. Atau menjahili Ibu. Berkomplot dengan anak-anaknya.

Dia yang setiap malam menceritakan kisah-kisah Nabi tanpa buku. Membuat anak-anaknya menuntut dibelikan buku sebagai bukti. Jika ada detil cerita yang tak sama, ia diserbu pertanyaan oleh anak-anaknya yang kebingungan. Ia bersedia mengecek buku miliknya demi memberikan jawaban yang tepat. Ia akui jika memang ia salah.

Dia yang suara gas motornya amat dikenali oleh Ibu dan anak-anaknya. Banyak motor yang keluar-masuk rumah, tapi bunyi gas dari motor yang ia kendarai berbeda. Tak peduli menggunakan motor siapa pun, merk apa pun, jika terdengar irama gas motor "brem, breeemm, brem" ciri khasnya memasuki rumah, anak-anaknya tahu itulah waktunya berlari membuka pintu dan berteriak "ayaaah". Tak pernah salah.

Dia yang membuat anaknya menangis di depan kelas saat diminta bercerita tentang sosok idola. Terima kasih untuknya. Untuk ayah yang kami banggakan.

Wanita yang Kami Sayangi

1
COM
Dia yang ditinggal ayahnya saat berusia 8 tahun. Menjadikannya gadis kecil dengan tanggung jawab besar; mengasuh lima orang adik.

Dia yang amat diproteksi kakeknya dalam berinteraksi dengan lelaki. Sampai di usianya yang ke 33 ia diminta menemui lelaki yang dibawa pamannya. Padahal peraturan kakeknya jelas; anak gadis tidak boleh menemui tamu laki-laki. Ia sengaja berpenampilan kucel sebab tak mau dinikahi "anak kecil" yang 9 tahun lebih muda darinya. Selain itu, ia juga menyukai laki-laki lain. Laki-laki yang lebih mapan dan berpendidikan.

Dia yang hidupnya tak macam-macam. Pada akhirnya hanya ridho Allah dan orang tua yang ingin ia genggam. Ia memimpikan sosok "anak kecil" yang dibawa pamannya bersinar dan tinggi besar, sementara laki-laki yang ia sukai menjadi sosok yang kecil. Ia pun yakin menerima pinangan si "anak kecil". Menjadikannya suami, lalu ayah dari keempat anak mereka. Ayahku.

Dia yang punya jawaban khas saat anaknya bertanya mengapa ia 'telat' menikah. "Ibu kan nungguin Ayah gede dulu. Kalau Ibu nikah di umur 23-24, Ayah masih di bawah umur." Kelakar yang serius. Penuh rasa syukur.

Dia yang pandai menempatkan diri. Perilakunya tak pernah menggurui Ayah. Ia juga pandai merawat diri. Penampilannya yang awet muda tak pernah terlihat tua untuk mendampingi Ayah.
 
Dia yang menjadi guru pertama bagi keempat anaknya. Mengajarkan baca, tulis, hitung dengan penuh tawa. Berapa pun nilai anaknya di sekolah, ia selalu tersenyum. Tak pernah ada target khusus darinya asal anak-anaknya berusaha.

Dia yang selalu menampung riang dan keluh kesah anak-anaknya sepulang sekolah. Perhatian dan penerimaannya terhadap segala cerita membuat anak-anaknya terdorong untuk berkisah tanpa ditanya.
 
Dia yang masakannya mampu membuat Ayah dan anak-anaknya rela tidak makan di luar agar kuat banyak-banyak makan di rumah. Ia memasak makanan yang suami dan anak-anaknya gemari, sekali pun tidak ia sukai. Kalau sudah begitu, ia akan membuat telur dadar atau indomie untuk dirinya sendiri.

Dia yang paling lama terjaga karena selalu saja ada yang harus ia kerjakan; menyapu, mengepel, memasak, mengangkat jemuran, mencuci, atau menyetrika. Belum lagi pekerjaan tambahan yang diberikan oleh anak-anaknya yang belum mandiri.

Dia yang sering tertidur saat menonton televisi, namun segera bangun setelah ada yang mematikan televisinya. "Kok dimatiin? Kan ibu lagi nonton?" protesnya yang kerap disambut tawa oleh siapa saja yang tahu betul kalau sebelumnya ia pulas tertidur.

Dia yang pertama dicari setiap ada barang hilang di dalam rumah karena kebiasaannya membuang barang printilan yang tercecer. Namun ia juga yang sering menemukan barang yang anak-anaknya cari meski sebelumnya ia tidak bersinggungan dengan benda tersebut. Ia bagai terkoneksi dengan semua benda yang ada di rumah, kecuali dengan kaca matanya. Satu benda yang paling sering ia tanyakan keberadaannya.

Dia yang selalu tak nafsu makan saat ada anggota keluarga yang punya masalah. Jika ia sering melamun padahal Ayah dan keempat anaknya baik-baik saja, coba tanya kondisi ibunya atau kelima adiknya atau pasangan dari kelima adiknya atau anak-anak dari kelima adiknya atau saudara Ayah di kampung sana. Hatinya amat luas hingga mereka semua muat.

Dia yang mencandu harmoni. Keahliannya adalah mengalah agar tak ada pecah. Ia yakin Allah punya skenario terbaik untuk setiap hamba. "Rejeki nggak kemana," semacam slogan yang selalu ia promosikan kepada anak-anaknya.
 
Dia yang membuat anaknya paham makna 'memberi tak harap kembali'. Terima kasih untuknya. Untuk ibu yang kami sayangi.

Diam?

0
COM

Gemerincing gantungan pintu kembali terdengar, membuatku kembali mendongakkan kepala untuk melihat ke sana. Dengan segera aku memasukkan bukuku ke dalam tas. Meski mataku minus, tanpa kacamata sekali pun aku tahu siapa yang baru saja membuka pintu; Ara, gadis yang gemar memakai kemeja kebesaran dan tas besar di balik punggungnya. Ia berdiri di sana sembari menoleh ke kiri ke kanan seperti mencari sesuatu. Seseorang tepatnya. Aku.

Sengaja kubiarkan ia sibuk mengedarkan pandangan ke penjuru cafe. Toh, di tempat seramai dan sebesar apa pun, matanya yang besar dan jernih selalu mampu menangkap keberadaanku. Hanya matanya.

"Di!" Ia berteriak memanggilku sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi seolah lupa ini tempat umum. Setelah aku membalas lambaiannya, ia berjalan ke arahku. Aku sangat menikmati momen seperti ini. Momen dimana ia mencariku, lalu melihatku, menemukanku, sampai akhirnya menghampiriku. Ini alasan sesungguhnya mengapa aku membiarkannya celingukan di depan pintu.

Seketika ia sudah berdiri di sampingku, memegang kedua bahuku dan menggoncangkannya keras-keras,
"Diaz! Aaaak aku kangen banget sama kamu!" Ia berteriak seolah jarak di antara kami masih seperti saat ia berdiri di depan pintu tadi.

"Iya, Ra iya tapi..."

"Hehe sakit ya? Maaf," ia melepaskan genggamannya di bahuku, lalu duduk di kursi di hadapanku.

Ara memang seperti itu. Berbeda denganku yang kerap menyembunyikan perasaan, ia selalu spontan dan apa adanya. Ini pertemuan pertama kami setelah tiga minggu lalu ia pergi berlibur ke kampung halaman ibunya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung janjian bertemu di sini. Ia gemar bercerita. Menunda bertemu denganku sekali pun untuk mengistirahatkan tubuhnya ia anggap sebagai kegiatan membuang waktu yang bisa membasikan cerita-ceritanya. Katanya, ia punya banyak pengalaman seru selama di sana. Sebanyak itu juga kupastikan aku akan melihat matanya bekerjap-kerjap penuh semangat.

Hampir dua jam. Tak terhitung sudah berapa kali kerjapan matanya muncul. Ia betul-betul bahagia. Ceritanya tak ada habisnya, sama seperti kekagumanku padanya yang juga tak ada habisnya. Bedanya, ia menunjukkan kisah-kisahnya sementara aku menutupi rapat-rapat kekagumanku padanya.

Sebenarnya dulu aku kerap menunjukkan kepadanya -tidak secara langsung bahwa aku menyukainya. Tapi nihil. Ia tak pernah bergeming. Menunjukkan perasaan secara jelas saja aku bermasalah, apalagi menunjukkan secara tersirat seperti itu. Ah sudahlah, aku memang tak pandai menunjukkan perasaanku. Akhirnya kuputuskan untuk benar-benar menyimpannya sendiri.

"Eh iya, di sana aku ketemu keponakanku. Dulu dia masih bayi, sekarang udah kelas 1 SD haha. Lucu deh, dia kalau mau apa-apa suka ngasih kode gitu," Ara membuka topik cerita baru.

Aku mengaduk secangkir kopi susu yang baru kupesan lagi. Satu cangkir tak pernah cukup untuk menemani pertemuanku dengan Ara. "Maksudnya?" tanyaku sebelum menyeruput kopi. Manisnya pas.

"Misalnya nih pas aku lagi makan es krim, dia bakal deketin aku dan bilang 'Es krimnya enak kan, Tante? Aku juga suka es krim itu' gitu."

"Itu kode? Artinya?"

"Artinya, dia mau minta es krimku!" ujarnya sambil menganggukan kepala dan mengangkat telunjuk ke arahku. Dia memang perempuan paling sok tahu yang kukenal. Ia juga tak mau kalah. Namun, karena sifatnya yang itu lah aku bisa berlama-lama mengobrol dengannya karena ia tak akan mau mengakhiri pembicaraan sampai lawan bicaranya mengakui bahwa ia memang benar. Bukan, ia bukan penganut keyakinan "perempuan selalu benar sementara laki-laki kadang salah, kadang nggak benar". Bukan. Ia hanya perempuan berpengetahuan luas yang kerap gemas jika ada lawan bicaranya yang sesat pikir.

"Loh, bisa aja kan dia emang cuma memberi tahumu kalau dia suka es krim itu dan dia mau tahu pendapatmu tentang es krim itu. Sudah." Aku tersenyum. Siap memulai perdebatan panjang.

Tidak seperti Ara yang biasanya membeberkan fakta dalam berargumentasi, kali ini ia hanya mengungkapkan contoh kasus sejenis dan terus-terusan menyampaikan hal seperti, "aku yakin itu kode" "beneran deh, dia punya maksud lain" yang sama sekali tidak membuktikan bahwa keponakannya itu memang benar memberinya 'kode'. Kurang seru, batinku. Sampai satu pernyataan meluncur begitu saja dari mulutku, "Dia belum tentu main kode-kodean, Ra. Lagi pula kalau dia emang ngasih kode, belum tentu artinya sama seperti dugaanmu. Kamu sok bisa baca kode, padahal selama bertahun-tahun aku kodein kamu kalau aku suka kamu, kamu nggak pernah sadar kan,"

Ara tersenyum tipis. Senyumnya mengembalikan kesadaranku. Ya Tuhan, apa yang tadi kukatakan. Panik, aku meneguk kopiku. Hambar. Diam-diam kucuri lirik ke arah Arah. Ia menarik napas panjang, lalu membanting tubuhnya ke sandaran kursi. Tenang. Tidak seperti Ara yang sebelumnya.

"Kamu tahu Di, kenapa aku tahu kalau keponakanku itu nggak mengatakan maksud yang sebenarnya?" tanyanya memecah kesunyian di antara kami. Aku menggeleng.

"Tiap kali setelah dia ngomong sesuatu ke aku, dia nangis. Setelah berulang kali, akhirnya aku sadar kalau sebenarnya ada sesuatu yang ia mau, tapi nggak aku wujudin. Saat hal itu terulang lagi dan dia nangis lagi, aku tanya ke dia 'kamu mau ini?', dia mengangguk dan berhenti nangis. Jadi, terbukti kan kalau yang dia ucapin sebelumnya memang kode?"

Ia tersenyum penuh kemenangan. Aku heran mengapa di saat seperti ini ia tetap berusaha membuktikan kebenarannya dan malah tak bereaksi dengan perkataanku. Aku lega, sekaligus cemas.

"Iya, kamu benar." Aku terpaksa bersuara. Berusaha bersikap senormal mungkin.

"Lalu, aku ngomong ke dia kalau mau sesuatu dari orang lain, kita harus bilang ke orang itu dengan terus terang. Haha setelah itu dia benar-benar secara jelas minta apa-apa yang dia mau dariku." Ia menatapku tajam.

"Soal kode darimu..." Ia menggantung kalimatnya, juga napasku. Aku, yang sedang berpura-pura sibuk dengan cangkir kopiku, sangat terkejut dengan perkataannya.

"..kau pikir aku nggak ngerti? Kau berbeda dengan keponakanku. Dia belajar dari kesalahannya dan berani mencoba mengungkapkan keinginannya. Dia nggak sepertimu yang pengecut. Terus-terusan ngasih kode berharap orang lain mengerti maksudmu. Saat kau putus asa dengan kode-kodemu, bukannya mencoba menyampaikan maksud secara terang kau malah bungkam. Nggak lagi melakukan apa pun. Udah berapa kali aku membentakmu agar lebih berani jujur sama orang lain, agar orang lain nggak melulu menyakitimu cuma karena mereka nggak tahu kalau kamu sakit karena mereka?! Hal itu juga yang kuharap bisa kau tunjukkan saat berurusan denganku."

Suaranya bergetar. Bergantung air di sudut matanya. Ara sangat jarang menangis di hadapanku. Ia hanya menangis saat ia merasa telah mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Aku ingin menghampirinya, merangkulnya, dan mengatakan bahwa aku sama sekali tidak pernah kecewa atau dibuat sakit olehnya. Tapi perkataannya sudah membekukan sekujur tubuhku.

"Keponakanku masih kecil, Diaz! Dia juga baru kenal aku. Tapi kamu, kamu laki-laki dewasa yang sudah hampir lima tahun mengenalku." Ia diam. Tangisnya berhenti.

"Ra..."

Ia berjalan menghampiriku, menepuk bahuku keras sekali, "Hahaha maaf ya Di selama ini aku bertingkah seolah aku nggak tahu apa-apa. Aku cuma mau kamu paham kalau hati mau dilihat dan didengar, kamu harus menyuarakan dan menunjukkan isi hatimu. Lagipula kalau kamu tahu kalau aku tahu kamu suka aku, terus apa? Kamu bakal tetap diam kan?"

Belum sempat aku bereaksi, ia sudah kembali ke kursinya, mengangkat tas besar yang sedari tadi bertengger di kaki meja, lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama, terdengar suara gemerincing dari arah pintu cafe. Ia meninggalkanku terpaku di kursi. Tak paham dengan apa yang baru saja terjadi.

Suara gemerincing gantungan pintu terdengar lagi. Aku menoleh setelah mendengar namaku dipanggil dari arah sana. Ara kembali. Berteriak dari depan pintu.

"Diaz! Yang barusan itu kode. Kita gantian ya sekarang. Kamu yang harus mecahin kodenya."

Gemerincing gantungan pintu kembali berbunyi. Mengiringi kepergian Ara. Ia menyisakan puluhan pertanyaan yang kencang terdengar, dalam hati dan benakku. Hanya satu pertanyaan yang kutahu pasti bahwa jawabnya bukanlah diam.