Dear All Family

Pengalaman magang di salah satu panti rehabilitasi narkoba tepat di bulan Ramadhan tahun lalu masih meninggalkan banyak kesan. Tadinya mau cerita soal hal itu di sini, tapi karena berbagai pertimbangan akhirnya mutusin untuk nggak dishare di sini. Biarlah jadi kenangan manis di hati aja. (?)

Meski begitu, untuk mengabadikan momen seberharga itu gue ngerasa perlu meninggalkan sedikit jejak tentang mereka, para famili tercinta ("Famili" adalah sebutan yang mereka gunakan untuk menyebut diri mereka sesama residen pecandu narkoba yang lagi direhabilitasi).

Untuk mengingatkan diri gue tentang mereka, gue cuma bisa bilang

Masa lalu mereka gelap. Masa depan mereka tak ada yang tahu. Yang kutahu, mereka tengah merangkak keluar dari kegelapan. Mencoba meraih cahaya tuk masa depan.

Kita sama dengan mereka, hanya saja...
Saat cahaya kita mulai redup, ada banyak yang siap membagi cahanya.
Saat cahaya kita hampir padam, kita ingat akan cahaya di atas sana yang tak pernah mati.
Saat cahaya kita habis dan gelap benar-benar datang, kita ingin dan mencari terang.

Entah pada kondisi yang mana mereka dulu, namun kini mereka mencari terang. Mereka ingin dan butuh cahaya.

Untuk kita yang punya dan tahu keberadaan cahaya, jadikan cahaya itu sebaik-baiknya cahaya. Cahaya yang bukan hanya membuat diri kita terlihat, melainkan juga membuat kita bisa melihat segala yang ada di depan mata. Termasuk keberadaan orang seperti mereka.

Dear all family, tetaplah berjuang. :)
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. An-Nisa: 100)

Ujian atau Azab?

0
COM
Jangan bersedih. Tuhan sedang mengujimu.
Kau akan naik kelas jika kau berhasil dalam ujian ini.

Akhirnya, kau rasakan sendiri akibatnya! Azab Tuhan nyata.
Kini Dia tunjukkan kemarahan-Nya padamu.

Ini tanda sayang atau balasan dosa?
Tak satu pun kebaikan ada dalam ribuan dosaku.
Sebaliknya, ribuan dosa serta dalam kebaikanku yang satu.
Racun dan penawar hati tak jarang saru.

Aku tak sempurna dalam menghitung nikmat-Mu.
Yang kuminta tapi tak Kau beri kadang terlihat lebih dari yang Kau beri tanpa pernah kuminta.
Aku tak sempurna dalam merayu-Mu.
Merasa sering menjura, padahal hati lebih sering mendua.
Aku tak sempurna dalam memohon ampun.
Tangisku kala mengingat dosa tak lebih keras dari tawaku akibat dunia.

Ini tanda sayang atau balasan dosa? Aku tak punya jawaban tepat.
Yang aku punya hanya keyakinan bahwa Kau Maha Penyayang dan Maha Pemaaf.


Ditinggal Kelas Pertama

0
COM
Pagi tadi, pertama kali ke sekolah lagi setelah liburan akhir tahun ajaran. Setelah sampai depan pintu sekolah, gue kembali deg-degan. Rasanya sama kayak enam bulan lalu waktu mau memperkenalkan diri di depan anak-anak hehe. Bedanya, pagi tadi deg-degan gue lebih ke nggak sabar ngeliat kembali ekspresi menggemaskan para bocah, terutama anak kelas B yang selalu semangat nyambut kedatangan gue di depan pintu. Iya, sepanjang semester lalu mereka emang sering dateng lebih pagi dari gue.

Jelang masuk pintu sekolah, gue udah siap denger suara tinggi Malvino, "Kak Patiyaaah!" sambil lari ke arahku. Teriakannya seolah jadi komando bagi anak-anak lain untuk ikut lari menghampiri gue.

Di kepala gue udah kebayang sosok Al ngibrit buru-buru rapiin mainan, sebelum ikutan nyerbu ke arah gue. Antrean yang tadinya rapi, mendadak kisruh karena Al ngedorong teman-temannya dari belakang.

Kalau liat hal itu, sebelum gue sempat buka mulut, Deswita bakal udah lebih dulu ngomel, "Al kamu mah, ngantri dong! Sakit tau didorong-dorong."

Di saat anak lain sibuk dorong-dorongan, Zema cuma colek-colekan dari belakang sambil ngelirik-lirik gue. Dia anaknya emang kalem, tapi suka mau ikutan heboh kayak anak-anak lain meski jadinya keliatan kikuk. :')

Gavin juga cuma colek-colek dari belakang. Bedanya, di saat yang lain udah pada berhenti dorong-dorongan, dia justru suka mancing keributan lagi.

Setelah kerumunan bubar, Mirza baru mendekat, nyalim, lalu laporan, "Kak, masa tadi si itu lalala, si anu lilili." Anak lain pasti kepancing untuk laporan juga. Heboh lagi.

Biasanya, semua baru diam setelah dengar salam Mihdan yang datangnya selalu paling akhir. Tapi diamnya bentar doang, Mirza selalu punya banyak kisah untuk disetor tiap pagi haha. "Kak, aku udah daftar SD dong..Yes yes sebentar lagi masuk SD." Yak, heboh lagi. Begitu terus setiap hari.

Kanan-kiri: Gavin, Malvino, Mirza, Zema, Al, Deswita, dan anak kelas A angkatan 2014-2015.

Tapi pagi ini berbeda. Saat gue buka pintu dan masuk kelas...krik. Nggak ada yang jawab salam. Di kelas cuma ada 2-3 orang yang nggak gue kenal wajahnya. Bengong sampai akhirnya tersadar...ini tahun ajaran baru. Anak-anak kelas B semester lalu ya udah pada SD lah. Ternyata gini rasanya "ditinggal" anak yang bahkan cuma anak murid. Nggak kebayang pas jadi ibu dan "ditinggal" anak beneran nanti kayak apa. #naonFath

Hari pertama tadi berjalan agak berat. Anak-anak baru masih belum bisa lepas dari orang tuanya, masih susah dideketin. Tapi, capek seketika lenyap saat jelang pulang sekolah terdengar suara dari depan pintu, "Kaaaak! Sini! Mau nyalim,"

Aku. Bengong. Tapi. Hati. Plong. Nyeeeess.

MIRZA! Pakai seragam merah-putih! Senang, nggak nyangka, bangga, terharu. Rasanya seakan-akan dia udah dewasa, gagah aja gitu pakai baju SD hahaha.

Mirza udah jadi anak SD :")
Seperti biasa, usai nyalim, dia memborbardir gue dengan cerita-ceritanya. "Aku nggak jadi sekolah di Kwini, aku jadinya sekolah di Kenari. Guru aku namanya Ibu A dan B. Yang Ibu B galak." FYI, SD Kenari itu SD-ku dulu, dan ya Ibu B emang galak. :)))

Begitulah Mirza. Dua hari jadi murid SD. Baju putih-merahnya masih bersih. Ceritanya masih menggebu. Senyumnya masih lebar. Sorot matanya masih bersinar. Gerak tubuhnya masih lepas. Dan cita-citanya masih jadi tentara.

Setelah waktu bergulir, kuharap hanya seragamnya saja yang lusuh. Cukup warna merah dasinya saja yang memudar. Keceriannya tidak. Cita-citanya hampir pasti akan berubah. Tapi semoga bukan karena semangatnya melapuk dimakan rayap-rayap bangku sekolah.

Harapan yang sama untuk Al, Malvino, Zema, Deswita, Mihdan, dan Gavin. Aku kangen kalian. Makasih ya udah ngajarin aku banyak hal. Maaf kalau kehadiranku mungkin menciderai proses tumbuh-kembang kalian. Selamat tumbuh belajar dan berbahagia, Boboiboy-nya aku :D

Kebetulan

Dalam hidup sehari-hari, pasti banyak hal yang (seakan-akan) terjadi begitu saja dan tanpa disengaja alias ke-be-tu-lan. Beberapa "kebetulan" mungkin berarti, tapi banyak juga "kebetulan" lain yang nggak ada artinya. Terjadi. Tanpa tindak lanjut. "Kebetulan" yang terjadi tanpa tindak lanjut ini yang biasanya dianggap sebagai "kebetulan" semata. Padahal, nggak ada yang namanya kebetulan. Semua hal terjadi di waktu dan tempat yang udah Allah atur. Cuma kita aja sebagai manusia yang kadang nalarnya nggak sampai buat ngambil kesimpulan dari kejadian tertentu.
Gue sering ngalamin "kebetulan" yang pada akhirnya gue sadari bahwa itu bukan kebetulan. Mulai dari kejadian yang simpel kayak: biasanya langsung nyuci baju tapi ini nggak karena lupa, ternyata besok ujan seharian dan besokannya lagi baju itu mendadak harus dipakai. Alhamdulillah  lupa nyuci, kalau nggak dan pas mau dipakai masih basah?

...sampai "kebetulan" yang besar, yang pada akhirnya bikin kepala geleng-geleng saking takjubnya. Ya seperti itulah.
 
"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari Tuhan" -Ayu Utami

Fathiyah, baru tau makna "kebetulan" yang terjadi setahun lalu.

Semester (ter)Pendek Sepanjang Masa

0
COM
Tanggal : 8 Februari-18 Februari 2015
Pukul    : 06.30-22.00 WIB
Ruang   : 204 
Mata Kuliah :
- Ilmu Kedokteran
- Ilmu Keperawatan
- Ilmu Komunikasi
- Sosiologi
- Ekonomi
- Manajemen
- Geografi
- Sejarah
- Psikologi
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Daerah
- Bahasa Arab
- Fikih
- Akidah Akhlak
- Quran Hadits
- Tata Boga
- Administrasi
- Pemasaran
Kapasitas Peserta : 3++

Sepuluh hari terakhir gue menghabiskan waktu di ruang 204.  Di sana, gue banyak dapat pelajaran luar biasa yang kadang bikin takjub, senang, bingung, takut, heran, malu atau malah ketampar. Sebut gue norak atau apa pun, tapi gue beneran dapat banyak hikmah 'terjebak' di dalam sana. Nggak perlu uang atau buku. Cukup modal sabar, ikhlas, tanggap, buka mata, buka telinga, buka hati, sama norak sedikit (apresiasi kejadian atau hal positif sekecil apa pun). Udah. Sekarang, kelas favorit gue bukan lagi H104 atau H3, tapi 204. :))

Inti dari sekian banyak pelajaran yang gue dapat adalah lakukan apa yang hati kita yakini. Supaya hati kita ngeyakinin sesuatu yang tepat, banyakin referensi dari sumber-sumber yang tepat dan bisa dipercaya. Sebelumnya, yang paling penting kita harus lebih dulu yakin sama yang Maha Membolak-balikan Hati agar semua referensi bisa dipahami dan diterapkan dengan bijak sesuai dengan ketentuan-Nya. Karena memang Allah yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki Ilmu.

Baru sehari nggak ke sana, rasanya aneh. Kangen banget belajar dari orang-orang dan segala kejadian di kelas itu, tapi gue nggak mau kalau harus ngulang kelas itu lagi hehe. Cukup sekali, tapi nggak akan gue lupain (makanya ditulis di sini) dan akan tetap jadi kelas favorit sepanjang masa.

Tuan Menang Banyak (2)

0
COM
Dua bulan berlalu sejak papan nama bertuliskan namaku bertengger di meja. Sejak itu, kau tak pernah luput menyebut namaku di ujung ucapan terima kasih atau permintaantolongmu. Seperti biasa, aku hanya membalas dengan "Iya, Mas," atau "Sama-sama, Mas".  Agar sopan dan karena aku tak tahu harus memanggilmu siapa, Tuan. Hingga sore itu datang. Tepat pukul 15.00. Kau keluar dari ruangan.

"Tolong nomer 37, Mbak Putri." Tuan, tanpa kau sebutkan nomer lokermu, aku tahu di loker mana ransel, jaket, dan helmmu tersimpan.
 
Tuan, hampir lima menit dan kau masih berdiri di depan meja sambil sesekali mengecek ponsel. Apa masih ada barang yang tertinggal di dalam loker, Tuan?

"Oh, nggak, Mbak. Gue lagi nunggu temen nih, orangnya belum dateng. Eh iya, di sini ada colokan nggak, Mbak? Hehe mau numpang ngecas hape sebentar, Mbak. Hape gue lowbat. Takutnya temen gue nyasar terus nggak bisa ngubungin gue kalau hape mati."

Sementara ponselmu dicas, jari-jariku merapikan tumpukan kartu di atas meja dan jari-jarimu tak henti mengetuk-ketuk meja membuat bunyi yang seirama dengan senandungan yang keluar dari mulutmu.

...dengan lembut mentari-Mu. Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

Lalu, tak ada bunyi dari jari maupun mulutmu. Lirik lagu berganti menjadi lirikan matamu. Ke arahku.

"Kamu juga tahu lagu itu?" pertanyaanmu sungguh mengagetkanku, Tuan.

"Itu, barusan kamu ikut nyanyi. Pakai lirik pula, padahal gue cuma ngegumam haha."

Apa, Tuan? Maksudmu lirik yang tadi aku dengar itu berasal dari mulutku sendiri? Aduh.

"Yaelah, santai aja, Mbak. Lo tahu lagu itu juga? Lagu Sheila on 7 yang itu kan nggak ngetop, wah berarti lo suka Sheila on 7 juga ya? Eh iya, kenalin. Nama gue Dimas," tanganmu terulur.

Jadi, namamu Dimas, Tuan?

Kusambut tanganmu sambil menyebutkan nama. Jelas tak perlu, tapi aku bingung Tuan harus menjawab apa selain itu. Tangan dan bibirku masih ingat caranya bergerak saja, aku sudah bersyukur.

"Hahaha iya, gue udah tahu," kau menunjuk papan namaku sambil tersenyum. "Kayaknya kita seumuran ya, nggak usah panggil 'mas' lah ke gue."

"Iya, Mas."

"Eh?" matamu mendelik.

"Ng...kan 'Mas' untuk 'Dimas'," Duh. Kembali aku mengutuki diri sendiri.

"Hahaha bisa aja. Jangan-jangan emang dari dulu lo manggil gue 'Mas' karena tahu nama gue Dimas?"

Tanpa menunggu jawabanku, kau memulai percakapan lagi. Percakapan ringan seputar 'Lihat, Dengar, Rasakan' mengalir begitu saja.

Aku sudah tahu namamu. Bersamaan dengan itu, kau tahu band idolaku. Tetap kau yang menang banyak, Tuan. Setidaknya, sejak itu aku merasa punya kesempatan untuk menyamakan kedudukan atau bahkan membalikkan keadaan. Masih banyak lagu yang bisa kita diskusikan, Tuan. Betul begitu, Dimas?

Tuan Menang Banyak

0
COM
Jam menunjukkan pukul 09.15, waktu dimana kau biasanya muncul di sini dengan mata berkantung dan berlingkar hitam, seperti saat ini. Mungkin kau tidur larut setiap malam sampai-sampai matamu tak terbuka lebar meski mentari sudah cukup terang bersinar. Aku heran, kalau kau memang masih mengantuk, mengapa kau selalu datang di jam yang sama? Mengapa tidak sesekali kau undur waktumu ke mari untuk sekadar menambah waktu tidurmu barang 30 menit? Tidak ada yang menghukummu kalau kau datang lebih siang dari ini, Tuan.

Wah, lihat! Pagi ini ranselmu berwarna biru. Ransel baru ya, Tuan? Akhirnya kau mengganti ransel hitammu. Bukannya aku bosan dengan ransel hitammu, hanya saja aku gemas melihat lubang yang menganga di bagian bawah kiri ransel itu. Kalau buku catatan kecilmu jatuh di jalan, bagaimana?

Tuan, aku tak tahu apa isi buku kecilmu itu. Aku hanya tahu setiap ke sini kau selalu membawa buku itu. Sampul buku itu berwarna oranye dengan gambar pohon di sampul depan dan sebuah stiker kecil bergambar...singa memegang tongkat begitu persepsiku di sudut bawah sampul belakang. Belakangan baru kutahu bahwa itu adalah lambang tim sepak bola Chelsea setelah aku melihat gambar singa bertongkat seperti itu ada di  kaos biru bertuliskan "Chelsea Football Club" yang sering kau kenakan. Maklum, aku buta sepak bola, Tuan.

Tuan, tumben pagi ini kau tak memakai jaket? Padahal di luar sedang hujan. Udaranya juga cukup dingin, lho. Biasanya, hujan atau tidak kau memakai jaket, entah jaket jeans atau jaket katun berhoodie. Kalau boleh berpendapat, aku lebih suka melihatmu memakai jaket hoodiemu, Tuan. Jaket berwarna biru dongker dengan sedikit warna merah dan putih di bagian depan itu terlihat pas denganmu. Kalau kau memakai jaket, biasanya kau melepasnya setelah kau melepas ransel.

Kau tak pernah membawa ransel ke dalam. Kau hanya membawa laptop, telepon genggam, charger laptop, dan tentu saja buku kecilmu. Dompet cokelatmu juga tak pernah kau bawa. Pun pagi ini. Kau hanya mengambil sejumlah uang dan sebuah kartu dari dompet yang ada di ransel. Bedanya, ransel barumu ini hanya punya satu kantong, Tuan. Tidak ada kantong kecil seperti di ransel hitammu untuk menyimpan dompet. Kau nampak kesusahan menemukan dompet yang terjebak sekantong dengan barang-barang lain di dalam ranselmu.

Setelah semua barang-wajib-dibawa-ke-dalam sudah di tangan, kau bergegas ke dalam. Tuan, tunggu sebentar! Kau yakin tak ada yang tertinggal? Kakiku sibuk goyang-goyang. Sama sibuknya dengan otakku yang berpikir apakah aku harus memanggilmu atau membiarkanmu melupakan benda yang satu itu. Otakku belum tuntas menimbang, kau sudah membalikkan badan, berlari ke luar. Tak lama, kau kembali ke mejaku dengan benda itu di tangan kanan.

"Lupa banget gue ninggal helm di luar. Basah deh haha. Tolong titip ini juga ya...Mbak Putri?"

Tuan, aku tahu ransel yang kau gunakan dari ranselmu masih bagus, bolong, sampai kau mengganti ransel baru. Aku tahu dua model jaketmu, juga isi ranselmu. Aku tahu kebiasaanmu menyimpan dompet di ransel, bukan di saku celana. Aku tahu kau mungkin menyukai klub sepak bola Chelsea. Kusimpulkan dari stiker di belakang buku kecilmu dan kaos biru yang cukup sering kau pakai. Aku tahu kau mempunyai helm hitam yang banyak baret di sana-sini. Aku tahu tiga bulan terakhir setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu kau selalu ke sini. Datang tepat pukul 09.15 dengan mata pandamu, lalu keluar sekitar pukul 12 siang. Kadang kau kembali pada pukul 1 siang dan baru benar-benar pulang pada pukul 3 sore.

Aku tahu beberapa hal tentangmu, tapi dari papan nama yang baru dipasang di atas meja seketika kau tahu namaku. Tetap. Kau menang banyak, Tuan.

(Maunya) Kado Ultah ke-21 Nanti

4
COM
Sore tadi seorang sahabat bergurau bahwa untuk ulang tahun gue tahun ini dia akan membawakan si X (nama disamarkan) sebagai kado ulang tahun. Awalnya gue cuma ketawa, tapi nggak lama gue jadi sedih (lagi baper emang hari ini). Gue sedih karena ucapan dia bikin gue jadi keingetan tiga orang sahabat gue. Ismi, Syarifah, Alfia.

Ismi, Syarifah, Alfi merupakan sahabat gue sewaktu bersekolah di SD Negeri Pondok Terong 01. Gue kenal mereka dari semester dua kelas 3 sampai akhir kelas 4 SD. Waktu itu gue anak baru di sekolah itu, tapi mereka dan anak-anak lain ramah banget nyambut kehadiran gue. Nggak butuh waktu lama buat gue bisa berbaur, dekat, dan terbuka sama mereka. Padahal, di sekolah sebelumnya gue agak tertutup dan jarang main sama anak-anak lain meski udah tiga tahun kenal. Sayangnya, komunikasi kita putus sejak gue pindah rumah dan pindah sekolah pas kelas 5. Bocah seumuran kita pada saat itu nggak punya handphone, media sosial juga belum seheboh sekarang. Ditambah di rumah baru gue nggak ada telepon, jadilah komunikasi kami putus seputus-putusnya. Sedih? Banget. Kangen? Banget. Sampai sekarang gue masih suka nyari mereka di dunia maya dengan keyword yang cuma "Ismi", "Syarifah", dan "Alfi". Nggak usah ditanya gimana hasilnya. Yang jelas, lupa nama lengkap mereka termasuk dalam 10 hal yang paling gue sesali di dunia ini. *ciye*

Itu sore. Lalu, malamnya gue ngeliat akun twitter @poscinta yang lagi bikin event #30harimenulissuratcinta. Ternyata, tema surat cinta untuk hari ini lumayan pas sama mereka yang lagi gue pikirin. Jadi, di sini gue mau menulis surat cinta untuk mereka.




Ehem. Hai Ismi, Syarifah, Alfi...
Gimana kabar kalian? Baru nyapa sekarang karena nggak tau mesti nyapa lewat apaan haha. Kalian masih rebutan ranking 1 nggak setelah aku pindah sekolah? Saingan berkurang satu tuh hahaha. Jadinya siapa yang ranking 1, 2, dan 3? Kalian masih jadi dokter cilik kan sampai kelas 6? Terus pada jadi ikut lomba bikin cerpen nggak? Eh bentar, kalian masih pakai 'kita' nggak sih buat nyebut diri sendiri? Kelakuan anak Citayam! :)) Kangen deh sama kalian. Kangen belajar bareng, main bareng, berangkat-pulang sekolah bareng. Kangen main bareng di rumah Ismi terus dimasakkin telur dadar kecap sama ibunya. Kangen diajarin ngomong Sunda, ngomong ala bocah Depok tepatnya haha.

Ismi, Syarifah, Alfi...Kalian inget nggak sih, pertama kali aku dateng ke sekolah itu, aku bikin kalian bertiga berantem. Aku lupa sih persisnya gimana, kalau nggak salah waktu itu aku dekat sama salah satu dari kalian, terus dua orang yang lain ngerasa temannya aku ambil terus yang satu orang dekat sama aku itu dimusuhin. Deramah khas anak SD. :') Untung nggak lama, dan setelah itu malah aku bisa dekat sama semuanya, sama kalian bertiga. Ngomong-ngomong, kalian lanjut SMP dimana? SMA? Kuliah?

Ismi, Syarifah, Alfi...kalian punya facebook atau twitter nggak sih? Sumpah, susah banget nyari kalian di dunia maya. Salah aku juga sih lupa nama lengkap kalian. Cuma nyari "Ismi", "Syarifah", "Alfi" ya wajar kalau nggak pernah membawa aku ke kalian. Kalian pernah nyari namaku nggak di internet? Hehe cuma "Fathiyah" juga nggak akan bawa kalian ketemu aku. Paling kalian ketemunya sinetron Fathiyah si tarzan itu. Jadi, kalau kalian baca ini, kalian aja ya yang add facebook ku; Fathiyah Thia, hahaha.
 
Ismi, Syarifah, Alfi...kalau aku punya kesempatan untuk ngubungin kalian, aku nggak berharap macam-macam kok. Aku nggak akan ganggu kalian atau maksa untuk jalin persahabatan kayak dulu lagi. Kehidupan kita udah jalan masing-masing. Bisa dibilang udah nggak ada lagi irisannya. Wajar kalau kita ternyata udah nggak bisa seakrab dulu. Jangan kan sama kalian, hubunganku sama teman-teman lamaku yang lebih baru dari kalian aja, bisa berubah. Makin jarang ketemu, makin jarang komunikasi, makin bingung gimana caranya mulai percakapan lebih dulu. Aku suka ngerasa nggak berhak ngubungin teman lama kalau cuma pengin tahu kabar atau sekadar bilang kangen. Dulu sih aku sedih banget tiap ada teman lama yang 'berubah'. Tapi makin ke sini aku makin ngerti dan nerima kalau nggak ada yang salah sama hal itu. Mereka berubah, aku juga berubah. Rutinitas, aktivitas, kebiasaan, cara pikir, sudut pandang, sikap, prioritas setiap dari kita berubah. Nggak heran kalau preferensi dan frekuensi dalam pertemanan juga berubah, dari cocok jadi nggak cocok, atau sebaliknya. Bahkan ada yang bilang "hidupmu nggak berkembang kalau pertemananmu nggak berubah". Aku mengamini hal itu.

Ismi, Syarifah, Alfi...tapi berubah bukan berarti dari kawan jadi lawan, kan? Silaturahmi tetap bisa dijaga meski mungkin nggak bisa seakrab dan secair dulu. Nggak cocok lagi bukan berarti membuang teman lama begitu aja. Kalau nanti aku tahu medsos, tempat tinggal, atau nomer handphone kalian, aku boleh kan nyapa kalian untuk nanya kabar dan bilang kangen?

Ismi, Syarifah, Alfi...sebentar lagi aku ulang tahun lho. Umurku udah mau 21 tahun, kalian juga kan? Waktu itu umur kita masih sepuluh tahun, sekarang udah pada mau 21 tahun. Kayak apa coba wujud kalian? Oya, masa ada temanku yang bercanda mau ngedatengin X (seorang temanku yang lain) sebagai kado di hari ulang tahunku. Tahu nggak, aku nggak butuh X haha. Kalau beneran temanku itu bisa 'ngasih' manusia sebagai kado, aku mau manusia yang dia bawa itu kalian. Nggak kebayang gimana senangnya kalau beneran bisa ketemu kalian lagi.

Ismi, Syarifah, Alfi...rasanya nggak mungkin temanku itu bisa menghadirkan kalian sebagai kado ulang tahunku yang ke-21, tapi nggak masalah. Kalau emang jodoh, insya Allah kita bisa ketemu lagi entah kapan dan gimana caranya. Kalau nggak ketemu? Ya berarti masa berlaku kita berjodoh cuma 1,5 tahun itu. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, cepat atau lambat. Aku nggak nyesel berpisah dengan kalian. Katanya, perpisahan itu sepaket dengan pertemuan; mengutuki perpisahan sama dengan menyesali pertemuan. Aku bersyukur banget pernah ketemu kalian!

Makasih ya udah jadi sahabat-sahabat pertamaku, Ismi, Syarifah, dan Alfi. Makasih udah nyediain satu tempat di antara kalian buat orang baru kayak aku. Tetap tumbuh cantik di manapun kalian berada. :D

Salam kangen dari kita.
Fathiyah, anggota ke-4 Geng Flowers.

Lelaki yang Kami Banggakan

2
COM
Dia yang saat kecil lebih sering di sawah daripada di bangku sekolah. Membantu orang tua menanam padi atau mengangon kambing.

Dia yang tak pernah lulus SD karena di usianya yang ke dua belas memilih ikut kakaknya berdagang di ibu kota. 

Dia yang pandai mengelola uang sejak remaja. Saat remaja, hasil jualan ia tabung dengan rumus 1/3. Sepertiga untuk hidupnya sehari-hari, sepertiga untuk orang tuanya, dan sepertiga untuk mewujudkan cita-citanya; pergi haji. Impiannya itu terwujud sesaat sebelum ia menikah.

Dia yang saat muda rajin mengikuti pengajian di masjid-masjid. Sampai suatu hari ia nekat menghampiri gurunya, seorang ulama yang cukup disegani, untuk meminta dicarikan calon istri. Saat itu umurnya 24 tahun. Entah apa yang membuat gurunya sepercaya itu pada sosoknya, tak tanggung-tanggung ia dikenalkan dengan keponakan sang guru.

Dia yang saat itu tidak mudah menyerah dengan sikap tak acuh keponakan sang guru. Dia, yang entah dengan ilmu apa pada akhirnya membuat perempuan itu memimpikannya. Perempuan itu bermimpi melihatnya sebagai sosok yang bersinar dan lebih besar dari laki-laki lain yang sedang mendekatinya. Mereka belum mengenal satu sama lain. Hanya sosoknya dalam mimpi yang pada saat itu membuat sang perempuan mantap menerima pinangannya. Ia menjadikan perempuan itu istrinya, sekaligus ibu dari keempat anak mereka. Ibuku.

Dia yang selalu haus dengan ilmu meski sudah berkeluarga. Ia memanggil guru mengaji ke rumah untuk memperdalam ilmu agama. Ia juga mendaftarkan diri di lembaga pendidikan bahasa Arab. Ditolak dengan alasan tidak memiliki ijazah, maka tidak bisa mendapatkan sertifikat. "Saya nggak butuh sertifikat. Saya cuma mau belajar." Ucapannya menjadi tiket masuk untuknya belajar di sana dan di beberapa tempat lain setelahnya.

Dia yang bisa memperbaiki keran, kipas angin, televisi, mesin air, hingga mesin cuci. Ia bisa memasang kancing di seragam sekolah anaknya. Dia juga bisa memijit. Dia bisa menenangkan Ibu yang mudah cemas. Dia laki-laki serba bisa.

Dia yang selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah. Bermodalkan satu tubuh yang tak pernah lelah bolak-balik sekolah-rumah-sekolah sebab keempat anaknya tak muat diangkut dengan satu motor.

Dia yang meleburkan dirinya bukan hanya dengan keempat anaknya, melainkan juga dengan puluhan bahkan ratusan anak-anak di sekitar rumah. Ia membuat ruang tamu rumah ramai di malam hari dengan anak-anak yang belajar mengaji. Jumlah anak kecil terus bertambah, namun luas ruang tamu tak berubah. Dia membagi jam mengaji menjadi pagi, siang, sore. Kini, ruang tamu rumah hanya sepi di malam hari.

Dia yang pusing jika piringnya dipenuhi banyak lauk, membuat Ibu selalu dikomentari penjual nasi uduk. "Masa Bapak makannya gini doang sih, Bu. Kasian amat," kata penjual nasi uduk tiap melihat nasi yang Ibu beli hanya ditemani telur atau orek tempe. Tidak pernah telur dan orek tempe.

Dia yang tak pernah kehabisan humor untuk ditertawakan bersama di ruang tengah. Bahan bernama 'masalah' sekali pun bisa ia tunjukkan sisi lucunya. Ia tak pernah pula kehabisan ide untuk menjahili anak-anaknya. Atau menjahili Ibu. Berkomplot dengan anak-anaknya.

Dia yang setiap malam menceritakan kisah-kisah Nabi tanpa buku. Membuat anak-anaknya menuntut dibelikan buku sebagai bukti. Jika ada detil cerita yang tak sama, ia diserbu pertanyaan oleh anak-anaknya yang kebingungan. Ia bersedia mengecek buku miliknya demi memberikan jawaban yang tepat. Ia akui jika memang ia salah.

Dia yang suara gas motornya amat dikenali oleh Ibu dan anak-anaknya. Banyak motor yang keluar-masuk rumah, tapi bunyi gas dari motor yang ia kendarai berbeda. Tak peduli menggunakan motor siapa pun, merk apa pun, jika terdengar irama gas motor "brem, breeemm, brem" ciri khasnya memasuki rumah, anak-anaknya tahu itulah waktunya berlari membuka pintu dan berteriak "ayaaah". Tak pernah salah.

Dia yang membuat anaknya menangis di depan kelas saat diminta bercerita tentang sosok idola. Terima kasih untuknya. Untuk ayah yang kami banggakan.

Wanita yang Kami Sayangi

1
COM
Dia yang ditinggal ayahnya saat berusia 8 tahun. Menjadikannya gadis kecil dengan tanggung jawab besar; mengasuh lima orang adik.

Dia yang amat diproteksi kakeknya dalam berinteraksi dengan lelaki. Sampai di usianya yang ke 33 ia diminta menemui lelaki yang dibawa pamannya. Padahal peraturan kakeknya jelas; anak gadis tidak boleh menemui tamu laki-laki. Ia sengaja berpenampilan kucel sebab tak mau dinikahi "anak kecil" yang 9 tahun lebih muda darinya. Selain itu, ia juga menyukai laki-laki lain. Laki-laki yang lebih mapan dan berpendidikan.

Dia yang hidupnya tak macam-macam. Pada akhirnya hanya ridho Allah dan orang tua yang ingin ia genggam. Ia memimpikan sosok "anak kecil" yang dibawa pamannya bersinar dan tinggi besar, sementara laki-laki yang ia sukai menjadi sosok yang kecil. Ia pun yakin menerima pinangan si "anak kecil". Menjadikannya suami, lalu ayah dari keempat anak mereka. Ayahku.

Dia yang punya jawaban khas saat anaknya bertanya mengapa ia 'telat' menikah. "Ibu kan nungguin Ayah gede dulu. Kalau Ibu nikah di umur 23-24, Ayah masih di bawah umur." Kelakar yang serius. Penuh rasa syukur.

Dia yang pandai menempatkan diri. Perilakunya tak pernah menggurui Ayah. Ia juga pandai merawat diri. Penampilannya yang awet muda tak pernah terlihat tua untuk mendampingi Ayah.
 
Dia yang menjadi guru pertama bagi keempat anaknya. Mengajarkan baca, tulis, hitung dengan penuh tawa. Berapa pun nilai anaknya di sekolah, ia selalu tersenyum. Tak pernah ada target khusus darinya asal anak-anaknya berusaha.

Dia yang selalu menampung riang dan keluh kesah anak-anaknya sepulang sekolah. Perhatian dan penerimaannya terhadap segala cerita membuat anak-anaknya terdorong untuk berkisah tanpa ditanya.
 
Dia yang masakannya mampu membuat Ayah dan anak-anaknya rela tidak makan di luar agar kuat banyak-banyak makan di rumah. Ia memasak makanan yang suami dan anak-anaknya gemari, sekali pun tidak ia sukai. Kalau sudah begitu, ia akan membuat telur dadar atau indomie untuk dirinya sendiri.

Dia yang paling lama terjaga karena selalu saja ada yang harus ia kerjakan; menyapu, mengepel, memasak, mengangkat jemuran, mencuci, atau menyetrika. Belum lagi pekerjaan tambahan yang diberikan oleh anak-anaknya yang belum mandiri.

Dia yang sering tertidur saat menonton televisi, namun segera bangun setelah ada yang mematikan televisinya. "Kok dimatiin? Kan ibu lagi nonton?" protesnya yang kerap disambut tawa oleh siapa saja yang tahu betul kalau sebelumnya ia pulas tertidur.

Dia yang pertama dicari setiap ada barang hilang di dalam rumah karena kebiasaannya membuang barang printilan yang tercecer. Namun ia juga yang sering menemukan barang yang anak-anaknya cari meski sebelumnya ia tidak bersinggungan dengan benda tersebut. Ia bagai terkoneksi dengan semua benda yang ada di rumah, kecuali dengan kaca matanya. Satu benda yang paling sering ia tanyakan keberadaannya.

Dia yang selalu tak nafsu makan saat ada anggota keluarga yang punya masalah. Jika ia sering melamun padahal Ayah dan keempat anaknya baik-baik saja, coba tanya kondisi ibunya atau kelima adiknya atau pasangan dari kelima adiknya atau anak-anak dari kelima adiknya atau saudara Ayah di kampung sana. Hatinya amat luas hingga mereka semua muat.

Dia yang mencandu harmoni. Keahliannya adalah mengalah agar tak ada pecah. Ia yakin Allah punya skenario terbaik untuk setiap hamba. "Rejeki nggak kemana," semacam slogan yang selalu ia promosikan kepada anak-anaknya.
 
Dia yang membuat anaknya paham makna 'memberi tak harap kembali'. Terima kasih untuknya. Untuk ibu yang kami sayangi.

Diam?

0
COM

Gemerincing gantungan pintu kembali terdengar, membuatku kembali mendongakkan kepala untuk melihat ke sana. Dengan segera aku memasukkan bukuku ke dalam tas. Meski mataku minus, tanpa kacamata sekali pun aku tahu siapa yang baru saja membuka pintu; Ara, gadis yang gemar memakai kemeja kebesaran dan tas besar di balik punggungnya. Ia berdiri di sana sembari menoleh ke kiri ke kanan seperti mencari sesuatu. Seseorang tepatnya. Aku.

Sengaja kubiarkan ia sibuk mengedarkan pandangan ke penjuru cafe. Toh, di tempat seramai dan sebesar apa pun, matanya yang besar dan jernih selalu mampu menangkap keberadaanku. Hanya matanya.

"Di!" Ia berteriak memanggilku sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi seolah lupa ini tempat umum. Setelah aku membalas lambaiannya, ia berjalan ke arahku. Aku sangat menikmati momen seperti ini. Momen dimana ia mencariku, lalu melihatku, menemukanku, sampai akhirnya menghampiriku. Ini alasan sesungguhnya mengapa aku membiarkannya celingukan di depan pintu.

Seketika ia sudah berdiri di sampingku, memegang kedua bahuku dan menggoncangkannya keras-keras,
"Diaz! Aaaak aku kangen banget sama kamu!" Ia berteriak seolah jarak di antara kami masih seperti saat ia berdiri di depan pintu tadi.

"Iya, Ra iya tapi..."

"Hehe sakit ya? Maaf," ia melepaskan genggamannya di bahuku, lalu duduk di kursi di hadapanku.

Ara memang seperti itu. Berbeda denganku yang kerap menyembunyikan perasaan, ia selalu spontan dan apa adanya. Ini pertemuan pertama kami setelah tiga minggu lalu ia pergi berlibur ke kampung halaman ibunya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung janjian bertemu di sini. Ia gemar bercerita. Menunda bertemu denganku sekali pun untuk mengistirahatkan tubuhnya ia anggap sebagai kegiatan membuang waktu yang bisa membasikan cerita-ceritanya. Katanya, ia punya banyak pengalaman seru selama di sana. Sebanyak itu juga kupastikan aku akan melihat matanya bekerjap-kerjap penuh semangat.

Hampir dua jam. Tak terhitung sudah berapa kali kerjapan matanya muncul. Ia betul-betul bahagia. Ceritanya tak ada habisnya, sama seperti kekagumanku padanya yang juga tak ada habisnya. Bedanya, ia menunjukkan kisah-kisahnya sementara aku menutupi rapat-rapat kekagumanku padanya.

Sebenarnya dulu aku kerap menunjukkan kepadanya -tidak secara langsung bahwa aku menyukainya. Tapi nihil. Ia tak pernah bergeming. Menunjukkan perasaan secara jelas saja aku bermasalah, apalagi menunjukkan secara tersirat seperti itu. Ah sudahlah, aku memang tak pandai menunjukkan perasaanku. Akhirnya kuputuskan untuk benar-benar menyimpannya sendiri.

"Eh iya, di sana aku ketemu keponakanku. Dulu dia masih bayi, sekarang udah kelas 1 SD haha. Lucu deh, dia kalau mau apa-apa suka ngasih kode gitu," Ara membuka topik cerita baru.

Aku mengaduk secangkir kopi susu yang baru kupesan lagi. Satu cangkir tak pernah cukup untuk menemani pertemuanku dengan Ara. "Maksudnya?" tanyaku sebelum menyeruput kopi. Manisnya pas.

"Misalnya nih pas aku lagi makan es krim, dia bakal deketin aku dan bilang 'Es krimnya enak kan, Tante? Aku juga suka es krim itu' gitu."

"Itu kode? Artinya?"

"Artinya, dia mau minta es krimku!" ujarnya sambil menganggukan kepala dan mengangkat telunjuk ke arahku. Dia memang perempuan paling sok tahu yang kukenal. Ia juga tak mau kalah. Namun, karena sifatnya yang itu lah aku bisa berlama-lama mengobrol dengannya karena ia tak akan mau mengakhiri pembicaraan sampai lawan bicaranya mengakui bahwa ia memang benar. Bukan, ia bukan penganut keyakinan "perempuan selalu benar sementara laki-laki kadang salah, kadang nggak benar". Bukan. Ia hanya perempuan berpengetahuan luas yang kerap gemas jika ada lawan bicaranya yang sesat pikir.

"Loh, bisa aja kan dia emang cuma memberi tahumu kalau dia suka es krim itu dan dia mau tahu pendapatmu tentang es krim itu. Sudah." Aku tersenyum. Siap memulai perdebatan panjang.

Tidak seperti Ara yang biasanya membeberkan fakta dalam berargumentasi, kali ini ia hanya mengungkapkan contoh kasus sejenis dan terus-terusan menyampaikan hal seperti, "aku yakin itu kode" "beneran deh, dia punya maksud lain" yang sama sekali tidak membuktikan bahwa keponakannya itu memang benar memberinya 'kode'. Kurang seru, batinku. Sampai satu pernyataan meluncur begitu saja dari mulutku, "Dia belum tentu main kode-kodean, Ra. Lagi pula kalau dia emang ngasih kode, belum tentu artinya sama seperti dugaanmu. Kamu sok bisa baca kode, padahal selama bertahun-tahun aku kodein kamu kalau aku suka kamu, kamu nggak pernah sadar kan,"

Ara tersenyum tipis. Senyumnya mengembalikan kesadaranku. Ya Tuhan, apa yang tadi kukatakan. Panik, aku meneguk kopiku. Hambar. Diam-diam kucuri lirik ke arah Arah. Ia menarik napas panjang, lalu membanting tubuhnya ke sandaran kursi. Tenang. Tidak seperti Ara yang sebelumnya.

"Kamu tahu Di, kenapa aku tahu kalau keponakanku itu nggak mengatakan maksud yang sebenarnya?" tanyanya memecah kesunyian di antara kami. Aku menggeleng.

"Tiap kali setelah dia ngomong sesuatu ke aku, dia nangis. Setelah berulang kali, akhirnya aku sadar kalau sebenarnya ada sesuatu yang ia mau, tapi nggak aku wujudin. Saat hal itu terulang lagi dan dia nangis lagi, aku tanya ke dia 'kamu mau ini?', dia mengangguk dan berhenti nangis. Jadi, terbukti kan kalau yang dia ucapin sebelumnya memang kode?"

Ia tersenyum penuh kemenangan. Aku heran mengapa di saat seperti ini ia tetap berusaha membuktikan kebenarannya dan malah tak bereaksi dengan perkataanku. Aku lega, sekaligus cemas.

"Iya, kamu benar." Aku terpaksa bersuara. Berusaha bersikap senormal mungkin.

"Lalu, aku ngomong ke dia kalau mau sesuatu dari orang lain, kita harus bilang ke orang itu dengan terus terang. Haha setelah itu dia benar-benar secara jelas minta apa-apa yang dia mau dariku." Ia menatapku tajam.

"Soal kode darimu..." Ia menggantung kalimatnya, juga napasku. Aku, yang sedang berpura-pura sibuk dengan cangkir kopiku, sangat terkejut dengan perkataannya.

"..kau pikir aku nggak ngerti? Kau berbeda dengan keponakanku. Dia belajar dari kesalahannya dan berani mencoba mengungkapkan keinginannya. Dia nggak sepertimu yang pengecut. Terus-terusan ngasih kode berharap orang lain mengerti maksudmu. Saat kau putus asa dengan kode-kodemu, bukannya mencoba menyampaikan maksud secara terang kau malah bungkam. Nggak lagi melakukan apa pun. Udah berapa kali aku membentakmu agar lebih berani jujur sama orang lain, agar orang lain nggak melulu menyakitimu cuma karena mereka nggak tahu kalau kamu sakit karena mereka?! Hal itu juga yang kuharap bisa kau tunjukkan saat berurusan denganku."

Suaranya bergetar. Bergantung air di sudut matanya. Ara sangat jarang menangis di hadapanku. Ia hanya menangis saat ia merasa telah mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Aku ingin menghampirinya, merangkulnya, dan mengatakan bahwa aku sama sekali tidak pernah kecewa atau dibuat sakit olehnya. Tapi perkataannya sudah membekukan sekujur tubuhku.

"Keponakanku masih kecil, Diaz! Dia juga baru kenal aku. Tapi kamu, kamu laki-laki dewasa yang sudah hampir lima tahun mengenalku." Ia diam. Tangisnya berhenti.

"Ra..."

Ia berjalan menghampiriku, menepuk bahuku keras sekali, "Hahaha maaf ya Di selama ini aku bertingkah seolah aku nggak tahu apa-apa. Aku cuma mau kamu paham kalau hati mau dilihat dan didengar, kamu harus menyuarakan dan menunjukkan isi hatimu. Lagipula kalau kamu tahu kalau aku tahu kamu suka aku, terus apa? Kamu bakal tetap diam kan?"

Belum sempat aku bereaksi, ia sudah kembali ke kursinya, mengangkat tas besar yang sedari tadi bertengger di kaki meja, lalu berjalan ke arah pintu. Tak lama, terdengar suara gemerincing dari arah pintu cafe. Ia meninggalkanku terpaku di kursi. Tak paham dengan apa yang baru saja terjadi.

Suara gemerincing gantungan pintu terdengar lagi. Aku menoleh setelah mendengar namaku dipanggil dari arah sana. Ara kembali. Berteriak dari depan pintu.

"Diaz! Yang barusan itu kode. Kita gantian ya sekarang. Kamu yang harus mecahin kodenya."

Gemerincing gantungan pintu kembali berbunyi. Mengiringi kepergian Ara. Ia menyisakan puluhan pertanyaan yang kencang terdengar, dalam hati dan benakku. Hanya satu pertanyaan yang kutahu pasti bahwa jawabnya bukanlah diam.