Anto (Tak) Suka Hujan

Hujan di pagi hari. Anto menjinjing sepatu ke sekolah. Sepulang sekolah, bukunya masih basah meski ia sudah di rumah. Anto tak suka hujan.

Hujan turun lagi saat Anto bermain. Larinya terasa berat, laju bola terhambat. Lapangan becek, bajunya lepek. Anto tak suka hujan.

Hujan deras membanjiri kota. Ayah ibunya terbaring. Mereka terkilir usai terseret arus banjir. Anto tak suka hujan.

Hujan kembali turun. Anto ke luar, hujan ditantang. Berdiri di tepi jalan menawarkan payung merah di tangan. Anto bocah berpayung merah kini mencari uang.

Anto bocah berpayung merah. Basahnya bukan hanya karena hujan, tapi juga peluh lelah. Payung merah ia genggam lemah. Ia masih menjemput receh meski terengah.

Anto bocah berpayung merah. Ia menyesali air hujan yang mulai naik. Payung ditutupnya tanpa marah. Ia sadar ini saatnya mentari kembali terik.

Anto bocah berpayung merah. Berharap hujan datang setiap hari. Langit terang mengundang resah. Ia khawatir keluarganya tak makan lagi.

Tuhan, izinkan esok hujan menyapa. Hanya kala sore pun tak apa. Dulu lawan sekarang kawan. Sungguh, kini Anto suka hujan.

sumber: google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar