Anto (Tak) Suka Hujan

0
COM
Hujan di pagi hari. Anto menjinjing sepatu ke sekolah. Sepulang sekolah, bukunya masih basah meski ia sudah di rumah. Anto tak suka hujan.

Hujan turun lagi saat Anto bermain. Larinya terasa berat, laju bola terhambat. Lapangan becek, bajunya lepek. Anto tak suka hujan.

Hujan deras membanjiri kota. Ayah ibunya terbaring. Mereka terkilir usai terseret arus banjir. Anto tak suka hujan.

Hujan kembali turun. Anto ke luar, hujan ditantang. Berdiri di tepi jalan menawarkan payung merah di tangan. Anto bocah berpayung merah kini mencari uang.

Anto bocah berpayung merah. Basahnya bukan hanya karena hujan, tapi juga peluh lelah. Payung merah ia genggam lemah. Ia masih menjemput receh meski terengah.

Anto bocah berpayung merah. Ia menyesali air hujan yang mulai naik. Payung ditutupnya tanpa marah. Ia sadar ini saatnya mentari kembali terik.

Anto bocah berpayung merah. Berharap hujan datang setiap hari. Langit terang mengundang resah. Ia khawatir keluarganya tak makan lagi.

Tuhan, izinkan esok hujan menyapa. Hanya kala sore pun tak apa. Dulu lawan sekarang kawan. Sungguh, kini Anto suka hujan.

sumber: google.com

Rumput yang Baru

3
COM

Ini bukan perkara rumput siapa yang lebih hijau.
Rumputmu hijau, rumputku pun hijau.
Selama dirawat rumput akan tetap hijau.
Aku merawat rumputku dengan baik.
Santai, aku tak sedang paceklik.

Ini bukan pula soal tidak bersyukur apalagi kufur.
Nikmat-Nya terlalu nyata untuk diabaikan mata.
Bahagiaku lebih dari cukup.
Saat ada yang tak bisa kuraih, Allah mengganti lebih.
Tenang, aku tak sedang bersedih.

Ini soal peningkatan, pengembangan, dan perbaikan.
Sama seperti rumput yang terus tumbuh, aku juga ingin tumbuh.
Jika diam berarti mati, maka hidup perlu bergerak.

Padang rumputku jutaan kali sudah kutinggali jejak.
Jika bisa mengelilinginya dengan mata tertutup, masih kah itu terhitung gerak?
Bersyukur bukan berarti hanya tidur.
Menganggurkan nikmat-Nya yang lain, tidak kah itu tergolong kufur?

Aku butuh padang rumput baru.
Tanah-Nya masih banyak.
Padang rumput baru akan kugarap.
Demi menggerakkan hidup dan menghidupkan gerak.

Saya Berasal dari [Tempat yang Ingin Aku Kunjungi Kembali]

3
COM
Sepanjang minggu ini aku hepi karena seminggu yang lalu Persib Bandung jadi juara ISL setelah 19 tahun puasa gelar. Iya, Persib Juaraaa! :'D Buat gue yang mengidolakan Persib dari jauh kemenangan ini luar biasa membahagiakan, apalagi bagi orang-orang yang emang lahir atau tumbuh di Bandung, kotanya Persib. Nggak heran kalau kemenangan ini dirayain meriah sama rakyat Bandung.

Ngomong-ngomong soal Bandung, Bandung adalah kota yang selalu pingin gue kunjungi. Dari dulu, tiap kali gue ditanya tentang kota mana yang paling mau gue kunjungi jawaban gue cuma Bandung. Gue bukan orang Bandung -cuma keturunan Sunda, nggak pernah tinggal di sana, nggak punya keluarga di sana, dan nggak pernah punya kenangan apapun di Kota Kembang itu. Alasan gue selalu pingin ke Bandung ya cuma satu: Persib Bandung. Gue mengidolakan Persib sejak kelas lima. Kelas lima pertama kalinya gue nonton pertandingan sepak bola Indonesia dan  gue langsung suka sama Persib.

Sukanya gue sama Persib berbarengan dengan sukanya adek gue sama Persija Jakarta. Dulu, adek suka ngajakin Ayah nonton langsung pertandingan-pertandingan Persija. Bahkan adek beberapa kali pernah dateng dan lihat langsung Persija latihan. Gue iri. Gue nggak bisa kayak dia. Gue nggak mungkin lihat Persib latihan rutin karena mereka latihan di Bandung. Gue juga nggak pernah diizinin orang tua buat nonton langsung pertandingan Persija vs Persib dengan alasan keamanan. Padahal itu satu-satunya kesempatan gue buat lihat Persib secara langsung di Jakarta. Sejak saat itu, gue bercita-cita pergi ke Bandung. Gue harus ke Bandung. Gue mau ke Stadion Siliwangi (markas Persib waktu itu) lihat Persib latihan dan nonton langsung Persib tanding di stadion itu. Tekad gue itu yang bikin gue jatuh cinta sama kota Bandung jauh sebelum gue pernah ke sana atau punya kenangan di sana. Kalau istilah sundanya mah, sebab jiwaku tiba mendahului raga, aku jatuh cinta sebelum sempat menjejak rupa.

Bandung jaraknya emang nggak jauh dari Jakarta, bisa dengan pulang-pergi pula. Cuma ya nggak tau kenapa selama ini nggak pernah ada acara keluarga atau acara sekolah yang diadain di sana (biasanya gue ke luar kota kalau nggak sama keluarga, ya sama rombongan sekolah). Jadilah selama dua puluh tahun gue hidup, baru bulan Juni lalu gue ke Bandung! Akhirnya! Meski cuma sehari semalam dan nggak sempat ke mana-mana, gue senang bukan main bisa menginjakkan kaki di tanah Bandung. Terlebih, beberapa bulan setelah gue ke sana, Persib juara. (?)

Pengalaman gue di Bandung kemarin emang cuma sehari semalam. Gue belum sempat ke Stadion Persib, apalagi nonton langsung Persib tanding. Tapi saat gue nonton di TV ada pesta rakyat di Bandung menyambut Persib Juara, gue bisa dengan bangga bilang kalau gue pernah ada di sana. Berkat yang sehari semalam itu juga, gue bisa jawab 'Bandung' sebagai tempat yang mau gue kunjungin lagi waktu ngerjain tugas Psikologi Konseling "Saya berasal dari...[tempat yang paling ingin Anda kunjungi kembali]"
"Saya berasal dari birunya kota Bandung. Bandungku saat ngalalanyah memanjakan kaki menyusuri trotoar yang ramah dan memanjakan perut dengan jajanan meriah. Kembaliku ke sana untuk Bandungku yang sesungguhnya. Bersorak di antara lautan biru Bobotoh menyaksikan Persib Bandung bertarung." 
Begitu kira-kira di balik kenapa Bandung. Semoga beneran bisa ke sana lagi buat Bandung yang sesungguhnya. Terakhir, selamat untuk Persib, Bobotoh dan semua pendukung Persib. Buat para oknum tertentu, kurang-kurangin ya perilaku anarkisnya supaya Bandung dan Persib tetap asik buat dibanggain. :)

Dia itu...

0
COM
Seorang yang kukenal di bangku SMA (tepatnya beberapa bulan sebelum masuk SMA) ini adalah makhluk yang mandiri. Masak sendiri, makan sendiri, nyuci baju sendiri, jalan-jalan sendiri. Apa-apa dan ke mana-mana sendiri pokoknya. Ditambah dengan keberanian yang dimiliki, dia siap sendirian menyusuri dunia baru sekalipun. Tsaah mandiri atau jomblo, Mbak? Eits, dia nggak jomblo lho. Itu dia. Kasian pacarnya, kadang.

Irit cerita saat ada masalah mungkin jadi keahliannya. Penyembunyi ulung. Kesannya sih kuat, tapi sebenernya... Dia nggak akan sembarang curhat minimal sampai dia nemuin sendiri setitik pencerahan. Kalo udah ada setitik pencerahan yang sebenernya belum mencerahkan alias bikin dia jadi dilema harus memutuskan, baru deh dia cerita ke orang yang bener-bener dia percaya.  Orang-orang terpilih itu bakal dia mintain pendapat dulu sebelum dia ambil tindakan. Pada dasarnya dia selalu mikir mateng-mateng sebelum bertindak, tapi dia sering ragu sama pemikirannya sendiri dan malah lebih percaya sama kata orang.  Jadi, dia sering menyandarkan keputusannya ke pendapat orang terpilih di sekitarnya. Kasian orang-orang itu, kadang.

Tatapan mata dan perkataannya yang tajam, membuatnya terlihat judes, jahat. Dia emang suka ngomong blak-blakan. Kalo menurutnya sesuatu itu jelek, ya dia bilang jelek. Kalo salah, dia bilang salah. Di sisi lain, dia itu nggak tegaan orangnya. Perilakunya yang ini tergantung udah sedekat apa dia sama lawan bicaranya. Biasa, standar ganda. Kalo ada masalah sama orang lain, entah orang dekat atau bukan, dia bakal ngajak ketemu orang itu buat nyelesaiin masalah secara langsung. Nggak ada tusuk-tusuk dari belakang, langsung tikam di depan mata. Lah.

Impian yang dia miliki selalu membuatnya bergerak maju. Diam di tempat bukan pilihan. Ia butuh orang yang sevisi supaya bisa gerak bareng meski selanjutnya dia tetap bergerak sendiri (ingat, dia mandiri). Orang itu baru dia sadari lagi keberadaannya saat dia hilang arah. Egois? Nggak. Dia bisa jalan cepat dan ninggalin orang itu sendirian, tapi dia bakal putar arah dan berlari saat orang di belakangnya minta bantuan.

*Ini tentang dia, yang tiap huruf dalam namanya menjelma jadi alinea dan tulisan ini dibuat atas permintaannya.