Waktu Semula

"Hanya masalah waktu dan semua akan kembali seperti semula, seperti tak ada masalah"
Satu kalimat itu, yang tak sengaja terbaca pagi ini, seketika merobohkan pertahananku. Pertahanan yang kupaksa kokoh sejak beberapa tahun lalu demi menutupi satu gambaran masa lalu yang menurutku kelam. "Memaafkan bukan berarti melupakan". Itulah salah satu bahan pertahananku. Apa benar maafku jika melupakan saja tak mampu? Apa benar maafku jika dadaku sesak hanya karena membaca kalimat di atas? Pertahanan yang kubuat tak lain hanyalah sebuah penolakan dan penyangkalan. Menolak bahwa aku pernah mengalami hal itu dan menyangkal bahwa aku seorang pendendam yang tak bisa memaafkan. Tapi, bukankah memaafkan memang bukan berarti melupakan? Cukup. Buang bahan itu sekarang.

Beri aku waktu. Bukan, bukan untuk memperkuat dan mempertinggi pertahananku. Beri aku waktu untuk menerima hal itu sebagai pengalaman yang membantu kita melewati tahap perkembangan. Beri aku waktu untuk mengikhlaskan dan menganggap itu bukan lagi persoalan. Beri aku waktu untuk siap tak lagi membangun pertahanan. Beri aku waktu untuk meruntuhkan sendiri pertahananku. Allah, beri aku kekuatan untuk melakukan itu semua sebelum waktu-Mu untukku atau waktu-Mu untuknya habis.

Ya, ini hanya masalah waktu sampai pertahananku hancur semua dan kita kembali seperti semula. Kumohon, bersabarlah sampai waktu itu tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar