Kursi Pesakitan


"Ayah, kursi pesakitan itu apa sih? Kenapa namanya pesakitan?"
"Apaan sih anak kecil sok baca koran. Sini! Kursi pesakitan aja nggak tau. Kursi pesakitan itu kursi yang bikin sakit. Keras, tajem. Sakit deh pokoknya kalo duduk di situ."
Kau tersenyum pada kami. Berarti Abang benar?

Kupikir karena kursinya keras.

"Waktu kita tinggal satu hari, kau belum berhasil membujuknya? Bilang saja malam ini aku kena serangan jantung ya."

"Pesakitan..pesakitan adalah orang yang terkena hukuman; terdakwa. Oh! Kalo gitu kursi pesakitan artinya..akh sebel dulu aku percaya aja lagi diboongin sama abang! Awas kamu, Bang!" Kau tertawa terbahak-bahak. Kali ini aku yang benar.

Kupikir karena kursi itu untuk terdakwa.

"Kau bilang kau bisa diandalkan, tapi kenapa bukti-bukti itu masih ada?? Tolong bawa aku ke rumah sakit."

"Mentang-mentang udah SMP, berani ngambek ya sekaraang. Aku minta maaf deh. Yang penting kan sekarang kita duduk enak, nggak kaya pesakitan yang ketakutan masuk penjara. Baikan dong?" Kau tersenyum lalu menghampiri dan merangkul kami. Pertanda kita baik-baik saja.
  •  
Kupikir kursi itu mengantarkan orang ke penjara.

"Sidang udah ditunda tujuh kali tapi hasilnya nihil. Sekarang, percaya ya sama aku. Biar aku sendiri yang urus semuanya. Kamu jaga ayah aja. Kalau gagal lagi toh sama aja, aku tinggal masuk rumah sakit lagi dan bikin rencana baru. Rencanaku pasti berhasil. Aku nggak mau dipenjara! Aku nggak mau dipenjaraaa!" Topeng optimismeku pudar. Abang memelukku. Berusaha menenangkan. Kau hanya menangis.

Ternyata, karena kursi itu untukku.

Aku terduduk lemas di samping nisanmu. Sekarang aku paham betul apa itu pesakitan dan kursiku kini memang amat menyakitkan. Senyum dan tawamu memang selalu berarti benar. "Bang, aku mau nyerahin diri." Keputusanku benar kan, Ayah? Kau tersenyum kan di dalam sana?

Aku pesakitan dengan ketiadaan senyum dan tawamu sebagai hukuman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar