Waktu Semula

0
COM
"Hanya masalah waktu dan semua akan kembali seperti semula, seperti tak ada masalah"
Satu kalimat itu, yang tak sengaja terbaca pagi ini, seketika merobohkan pertahananku. Pertahanan yang kupaksa kokoh sejak beberapa tahun lalu demi menutupi satu gambaran masa lalu yang menurutku kelam. "Memaafkan bukan berarti melupakan". Itulah salah satu bahan pertahananku. Apa benar maafku jika melupakan saja tak mampu? Apa benar maafku jika dadaku sesak hanya karena membaca kalimat di atas? Pertahanan yang kubuat tak lain hanyalah sebuah penolakan dan penyangkalan. Menolak bahwa aku pernah mengalami hal itu dan menyangkal bahwa aku seorang pendendam yang tak bisa memaafkan. Tapi, bukankah memaafkan memang bukan berarti melupakan? Cukup. Buang bahan itu sekarang.

Beri aku waktu. Bukan, bukan untuk memperkuat dan mempertinggi pertahananku. Beri aku waktu untuk menerima hal itu sebagai pengalaman yang membantu kita melewati tahap perkembangan. Beri aku waktu untuk mengikhlaskan dan menganggap itu bukan lagi persoalan. Beri aku waktu untuk siap tak lagi membangun pertahanan. Beri aku waktu untuk meruntuhkan sendiri pertahananku. Allah, beri aku kekuatan untuk melakukan itu semua sebelum waktu-Mu untukku atau waktu-Mu untuknya habis.

Ya, ini hanya masalah waktu sampai pertahananku hancur semua dan kita kembali seperti semula. Kumohon, bersabarlah sampai waktu itu tiba.

Lima Menit Bisa Apa?

0
COM
Guling-guling di tempat tidur buat tidur lagi?
Megang handuk dan ngelamun di depan kamar mandi?
Milih satu dari sederet baju yang ada di lemari?
Berdiri depan cermin ngatur poni biar nggak berspasi?
Ngomel di depan laptop akibat lambatnya koneksi?
Bolak-balik baca daftar menu kiri-kanan-kiri?
Basmi lapar dengan masak indomie?
Ngeringin setumpuk pakaian dengan mesin cuci?
Buka jalan jadi artis dengan ikut audisi?
Bikin orang ketawa lewat komedi sambil berdiri?
Ningkatin penjualan lewat iklan di TV?
Ngasih tausyiah sebelum beduk azan magrib berbunyi?
Nyerang balik, nyetak gol, dan jadi seri?
Beribadah mendekatkan diri pada Illahi?
Dapat 40% nilai Pelatihan II dengan presentasi di depan penguji?
(iya, ini curahan hati)
Semua itu bisa terjadi dalam lima menit. Lima menit bisa berarti banget atau malah basi banget. Kamu yang pilih bagaimana lima menitmu diisi.
Lima menit bisa apa? Yang pasti, bisa buat baca postingan ini. ;)

Garam

0
COM
Terasa meski wujudnya tak ada
Baru disadari jika rasanya pergi
Luka bersih dengan membuat perih
Dieksploitasi, lalu orang darah tinggi
Bermanfaat tak perlu terlihat
Bermanfaat kadang dituduh jahat
Bermanfaat jika porsi tepat
Garam penyedap rasa
Garam penyembuh luka

Mati Terhakimi

0
COM
Pagi
Berlomba dengan matahari
Dulu-duluan menyapa bumi
Bukan ayam pematok rejeki
Tapi ratusan orang yang naik metromini
Aku berlari untuk kursi
Sebut aku tak tahu diri
Naik bus itu duduk, bukan berdiri

Siang
Kerja kejar tayang
Yang penting bos senang
Kerja kejar tayang
Yang penting sempat makan rendang
Lepas lapar kenangan datang
Tak apa konsentrasi hilang
Kan kerja kejar tayang esok masih bisa diulang

Sore
Secangkir kopi di kafe
Sepiring somay tanpa pare
Abadikan dengan kamera hape
Apa pun yang terlihat hore
Demi 'like' di FB
Meski aku jadi kere

Malam
Pulang di atas jam enam
Sikutku masih tajam
Apa itu senyum sapa salam
Asal di bus mata terpejam
Selanjutnya biar kasur menelan tubuhku yang remuk redam

Malam pergi, pagi kembali
Silakan baca dari atas lagi

Kurang empati!
Tak punya mimpi!
Hidup tanpa esensi!
Begitu komentarmu sembunyi-sembunyi

Malam pergi, pagi tak kembali
Tak ada yang bisa kau baca lagi

Kursi Pesakitan

0
COM

"Ayah, kursi pesakitan itu apa sih? Kenapa namanya pesakitan?"
"Apaan sih anak kecil sok baca koran. Sini! Kursi pesakitan aja nggak tau. Kursi pesakitan itu kursi yang bikin sakit. Keras, tajem. Sakit deh pokoknya kalo duduk di situ."
Kau tersenyum pada kami. Berarti Abang benar?

Kupikir karena kursinya keras.

"Waktu kita tinggal satu hari, kau belum berhasil membujuknya? Bilang saja malam ini aku kena serangan jantung ya."

"Pesakitan..pesakitan adalah orang yang terkena hukuman; terdakwa. Oh! Kalo gitu kursi pesakitan artinya..akh sebel dulu aku percaya aja lagi diboongin sama abang! Awas kamu, Bang!" Kau tertawa terbahak-bahak. Kali ini aku yang benar.

Kupikir karena kursi itu untuk terdakwa.

"Kau bilang kau bisa diandalkan, tapi kenapa bukti-bukti itu masih ada?? Tolong bawa aku ke rumah sakit."

"Mentang-mentang udah SMP, berani ngambek ya sekaraang. Aku minta maaf deh. Yang penting kan sekarang kita duduk enak, nggak kaya pesakitan yang ketakutan masuk penjara. Baikan dong?" Kau tersenyum lalu menghampiri dan merangkul kami. Pertanda kita baik-baik saja.
  •  
Kupikir kursi itu mengantarkan orang ke penjara.

"Sidang udah ditunda tujuh kali tapi hasilnya nihil. Sekarang, percaya ya sama aku. Biar aku sendiri yang urus semuanya. Kamu jaga ayah aja. Kalau gagal lagi toh sama aja, aku tinggal masuk rumah sakit lagi dan bikin rencana baru. Rencanaku pasti berhasil. Aku nggak mau dipenjara! Aku nggak mau dipenjaraaa!" Topeng optimismeku pudar. Abang memelukku. Berusaha menenangkan. Kau hanya menangis.

Ternyata, karena kursi itu untukku.

Aku terduduk lemas di samping nisanmu. Sekarang aku paham betul apa itu pesakitan dan kursiku kini memang amat menyakitkan. Senyum dan tawamu memang selalu berarti benar. "Bang, aku mau nyerahin diri." Keputusanku benar kan, Ayah? Kau tersenyum kan di dalam sana?

Aku pesakitan dengan ketiadaan senyum dan tawamu sebagai hukuman.