Selesai sebelum Dimulai

0
COM
"Orang lebih termotivasi untuk menghindari kegagalan daripada meraih keberhasilan."





Itu sebabnya tulisanku ini kuakhiri sekarang.

Anto (Tak) Suka Hujan

0
COM
Hujan di pagi hari. Anto menjinjing sepatu ke sekolah. Sepulang sekolah, bukunya masih basah meski ia sudah di rumah. Anto tak suka hujan.

Hujan turun lagi saat Anto bermain. Larinya terasa berat, laju bola terhambat. Lapangan becek, bajunya lepek. Anto tak suka hujan.

Hujan deras membanjiri kota. Ayah ibunya terbaring. Mereka terkilir usai terseret arus banjir. Anto tak suka hujan.

Hujan kembali turun. Anto ke luar, hujan ditantang. Berdiri di tepi jalan menawarkan payung merah di tangan. Anto bocah berpayung merah kini mencari uang.

Anto bocah berpayung merah. Basahnya bukan hanya karena hujan, tapi juga peluh lelah. Payung merah ia genggam lemah. Ia masih menjemput receh meski terengah.

Anto bocah berpayung merah. Ia menyesali air hujan yang mulai naik. Payung ditutupnya tanpa marah. Ia sadar ini saatnya mentari kembali terik.

Anto bocah berpayung merah. Berharap hujan datang setiap hari. Langit terang mengundang resah. Ia khawatir keluarganya tak makan lagi.

Tuhan, izinkan esok hujan menyapa. Hanya kala sore pun tak apa. Dulu lawan sekarang kawan. Sungguh, kini Anto suka hujan.

sumber: google.com

Rumput yang Baru

3
COM

Ini bukan perkara rumput siapa yang lebih hijau.
Rumputmu hijau, rumputku pun hijau.
Selama dirawat rumput akan tetap hijau.
Aku merawat rumputku dengan baik.
Santai, aku tak sedang paceklik.

Ini bukan pula soal tidak bersyukur apalagi kufur.
Nikmat-Nya terlalu nyata untuk diabaikan mata.
Bahagiaku lebih dari cukup.
Saat ada yang tak bisa kuraih, Allah mengganti lebih.
Tenang, aku tak sedang bersedih.

Ini soal peningkatan, pengembangan, dan perbaikan.
Sama seperti rumput yang terus tumbuh, aku juga ingin tumbuh.
Jika diam berarti mati, maka hidup perlu bergerak.

Padang rumputku jutaan kali sudah kutinggali jejak.
Jika bisa mengelilinginya dengan mata tertutup, masih kah itu terhitung gerak?
Bersyukur bukan berarti hanya tidur.
Menganggurkan nikmat-Nya yang lain, tidak kah itu tergolong kufur?

Aku butuh padang rumput baru.
Tanah-Nya masih banyak.
Padang rumput baru akan kugarap.
Demi menggerakkan hidup dan menghidupkan gerak.

Saya Berasal dari [Tempat yang Ingin Aku Kunjungi Kembali]

3
COM
Sepanjang minggu ini aku hepi karena seminggu yang lalu Persib Bandung jadi juara ISL setelah 19 tahun puasa gelar. Iya, Persib Juaraaa! :'D Buat gue yang mengidolakan Persib dari jauh kemenangan ini luar biasa membahagiakan, apalagi bagi orang-orang yang emang lahir atau tumbuh di Bandung, kotanya Persib. Nggak heran kalau kemenangan ini dirayain meriah sama rakyat Bandung.

Ngomong-ngomong soal Bandung, Bandung adalah kota yang selalu pingin gue kunjungi. Dari dulu, tiap kali gue ditanya tentang kota mana yang paling mau gue kunjungi jawaban gue cuma Bandung. Gue bukan orang Bandung -cuma keturunan Sunda, nggak pernah tinggal di sana, nggak punya keluarga di sana, dan nggak pernah punya kenangan apapun di Kota Kembang itu. Alasan gue selalu pingin ke Bandung ya cuma satu: Persib Bandung. Gue mengidolakan Persib sejak kelas lima. Kelas lima pertama kalinya gue nonton pertandingan sepak bola Indonesia dan  gue langsung suka sama Persib.

Sukanya gue sama Persib berbarengan dengan sukanya adek gue sama Persija Jakarta. Dulu, adek suka ngajakin Ayah nonton langsung pertandingan-pertandingan Persija. Bahkan adek beberapa kali pernah dateng dan lihat langsung Persija latihan. Gue iri. Gue nggak bisa kayak dia. Gue nggak mungkin lihat Persib latihan rutin karena mereka latihan di Bandung. Gue juga nggak pernah diizinin orang tua buat nonton langsung pertandingan Persija vs Persib dengan alasan keamanan. Padahal itu satu-satunya kesempatan gue buat lihat Persib secara langsung di Jakarta. Sejak saat itu, gue bercita-cita pergi ke Bandung. Gue harus ke Bandung. Gue mau ke Stadion Siliwangi (markas Persib waktu itu) lihat Persib latihan dan nonton langsung Persib tanding di stadion itu. Tekad gue itu yang bikin gue jatuh cinta sama kota Bandung jauh sebelum gue pernah ke sana atau punya kenangan di sana. Kalau istilah sundanya mah, sebab jiwaku tiba mendahului raga, aku jatuh cinta sebelum sempat menjejak rupa.

Bandung jaraknya emang nggak jauh dari Jakarta, bisa dengan pulang-pergi pula. Cuma ya nggak tau kenapa selama ini nggak pernah ada acara keluarga atau acara sekolah yang diadain di sana (biasanya gue ke luar kota kalau nggak sama keluarga, ya sama rombongan sekolah). Jadilah selama dua puluh tahun gue hidup, baru bulan Juni lalu gue ke Bandung! Akhirnya! Meski cuma sehari semalam dan nggak sempat ke mana-mana, gue senang bukan main bisa menginjakkan kaki di tanah Bandung. Terlebih, beberapa bulan setelah gue ke sana, Persib juara. (?)

Pengalaman gue di Bandung kemarin emang cuma sehari semalam. Gue belum sempat ke Stadion Persib, apalagi nonton langsung Persib tanding. Tapi saat gue nonton di TV ada pesta rakyat di Bandung menyambut Persib Juara, gue bisa dengan bangga bilang kalau gue pernah ada di sana. Berkat yang sehari semalam itu juga, gue bisa jawab 'Bandung' sebagai tempat yang mau gue kunjungin lagi waktu ngerjain tugas Psikologi Konseling "Saya berasal dari...[tempat yang paling ingin Anda kunjungi kembali]"
"Saya berasal dari birunya kota Bandung. Bandungku saat ngalalanyah memanjakan kaki menyusuri trotoar yang ramah dan memanjakan perut dengan jajanan meriah. Kembaliku ke sana untuk Bandungku yang sesungguhnya. Bersorak di antara lautan biru Bobotoh menyaksikan Persib Bandung bertarung." 
Begitu kira-kira di balik kenapa Bandung. Semoga beneran bisa ke sana lagi buat Bandung yang sesungguhnya. Terakhir, selamat untuk Persib, Bobotoh dan semua pendukung Persib. Buat para oknum tertentu, kurang-kurangin ya perilaku anarkisnya supaya Bandung dan Persib tetap asik buat dibanggain. :)

Dia itu...

0
COM
Seorang yang kukenal di bangku SMA (tepatnya beberapa bulan sebelum masuk SMA) ini adalah makhluk yang mandiri. Masak sendiri, makan sendiri, nyuci baju sendiri, jalan-jalan sendiri. Apa-apa dan ke mana-mana sendiri pokoknya. Ditambah dengan keberanian yang dimiliki, dia siap sendirian menyusuri dunia baru sekalipun. Tsaah mandiri atau jomblo, Mbak? Eits, dia nggak jomblo lho. Itu dia. Kasian pacarnya, kadang.

Irit cerita saat ada masalah mungkin jadi keahliannya. Penyembunyi ulung. Kesannya sih kuat, tapi sebenernya... Dia nggak akan sembarang curhat minimal sampai dia nemuin sendiri setitik pencerahan. Kalo udah ada setitik pencerahan yang sebenernya belum mencerahkan alias bikin dia jadi dilema harus memutuskan, baru deh dia cerita ke orang yang bener-bener dia percaya.  Orang-orang terpilih itu bakal dia mintain pendapat dulu sebelum dia ambil tindakan. Pada dasarnya dia selalu mikir mateng-mateng sebelum bertindak, tapi dia sering ragu sama pemikirannya sendiri dan malah lebih percaya sama kata orang.  Jadi, dia sering menyandarkan keputusannya ke pendapat orang terpilih di sekitarnya. Kasian orang-orang itu, kadang.

Tatapan mata dan perkataannya yang tajam, membuatnya terlihat judes, jahat. Dia emang suka ngomong blak-blakan. Kalo menurutnya sesuatu itu jelek, ya dia bilang jelek. Kalo salah, dia bilang salah. Di sisi lain, dia itu nggak tegaan orangnya. Perilakunya yang ini tergantung udah sedekat apa dia sama lawan bicaranya. Biasa, standar ganda. Kalo ada masalah sama orang lain, entah orang dekat atau bukan, dia bakal ngajak ketemu orang itu buat nyelesaiin masalah secara langsung. Nggak ada tusuk-tusuk dari belakang, langsung tikam di depan mata. Lah.

Impian yang dia miliki selalu membuatnya bergerak maju. Diam di tempat bukan pilihan. Ia butuh orang yang sevisi supaya bisa gerak bareng meski selanjutnya dia tetap bergerak sendiri (ingat, dia mandiri). Orang itu baru dia sadari lagi keberadaannya saat dia hilang arah. Egois? Nggak. Dia bisa jalan cepat dan ninggalin orang itu sendirian, tapi dia bakal putar arah dan berlari saat orang di belakangnya minta bantuan.

*Ini tentang dia, yang tiap huruf dalam namanya menjelma jadi alinea dan tulisan ini dibuat atas permintaannya.

Waktu Semula

0
COM
"Hanya masalah waktu dan semua akan kembali seperti semula, seperti tak ada masalah"
Satu kalimat itu, yang tak sengaja terbaca pagi ini, seketika merobohkan pertahananku. Pertahanan yang kupaksa kokoh sejak beberapa tahun lalu demi menutupi satu gambaran masa lalu yang menurutku kelam. "Memaafkan bukan berarti melupakan". Itulah salah satu bahan pertahananku. Apa benar maafku jika melupakan saja tak mampu? Apa benar maafku jika dadaku sesak hanya karena membaca kalimat di atas? Pertahanan yang kubuat tak lain hanyalah sebuah penolakan dan penyangkalan. Menolak bahwa aku pernah mengalami hal itu dan menyangkal bahwa aku seorang pendendam yang tak bisa memaafkan. Tapi, bukankah memaafkan memang bukan berarti melupakan? Cukup. Buang bahan itu sekarang.

Beri aku waktu. Bukan, bukan untuk memperkuat dan mempertinggi pertahananku. Beri aku waktu untuk menerima hal itu sebagai pengalaman yang membantu kita melewati tahap perkembangan. Beri aku waktu untuk mengikhlaskan dan menganggap itu bukan lagi persoalan. Beri aku waktu untuk siap tak lagi membangun pertahanan. Beri aku waktu untuk meruntuhkan sendiri pertahananku. Allah, beri aku kekuatan untuk melakukan itu semua sebelum waktu-Mu untukku atau waktu-Mu untuknya habis.

Ya, ini hanya masalah waktu sampai pertahananku hancur semua dan kita kembali seperti semula. Kumohon, bersabarlah sampai waktu itu tiba.

Lima Menit Bisa Apa?

0
COM
Guling-guling di tempat tidur buat tidur lagi?
Megang handuk dan ngelamun di depan kamar mandi?
Milih satu dari sederet baju yang ada di lemari?
Berdiri depan cermin ngatur poni biar nggak berspasi?
Ngomel di depan laptop akibat lambatnya koneksi?
Bolak-balik baca daftar menu kiri-kanan-kiri?
Basmi lapar dengan masak indomie?
Ngeringin setumpuk pakaian dengan mesin cuci?
Buka jalan jadi artis dengan ikut audisi?
Bikin orang ketawa lewat komedi sambil berdiri?
Ningkatin penjualan lewat iklan di TV?
Ngasih tausyiah sebelum beduk azan magrib berbunyi?
Nyerang balik, nyetak gol, dan jadi seri?
Beribadah mendekatkan diri pada Illahi?
Dapat 40% nilai Pelatihan II dengan presentasi di depan penguji?
(iya, ini curahan hati)
Semua itu bisa terjadi dalam lima menit. Lima menit bisa berarti banget atau malah basi banget. Kamu yang pilih bagaimana lima menitmu diisi.
Lima menit bisa apa? Yang pasti, bisa buat baca postingan ini. ;)

Garam

0
COM
Terasa meski wujudnya tak ada
Baru disadari jika rasanya pergi
Luka bersih dengan membuat perih
Dieksploitasi, lalu orang darah tinggi
Bermanfaat tak perlu terlihat
Bermanfaat kadang dituduh jahat
Bermanfaat jika porsi tepat
Garam penyedap rasa
Garam penyembuh luka

Mati Terhakimi

0
COM
Pagi
Berlomba dengan matahari
Dulu-duluan menyapa bumi
Bukan ayam pematok rejeki
Tapi ratusan orang yang naik metromini
Aku berlari untuk kursi
Sebut aku tak tahu diri
Naik bus itu duduk, bukan berdiri

Siang
Kerja kejar tayang
Yang penting bos senang
Kerja kejar tayang
Yang penting sempat makan rendang
Lepas lapar kenangan datang
Tak apa konsentrasi hilang
Kan kerja kejar tayang esok masih bisa diulang

Sore
Secangkir kopi di kafe
Sepiring somay tanpa pare
Abadikan dengan kamera hape
Apa pun yang terlihat hore
Demi 'like' di FB
Meski aku jadi kere

Malam
Pulang di atas jam enam
Sikutku masih tajam
Apa itu senyum sapa salam
Asal di bus mata terpejam
Selanjutnya biar kasur menelan tubuhku yang remuk redam

Malam pergi, pagi kembali
Silakan baca dari atas lagi

Kurang empati!
Tak punya mimpi!
Hidup tanpa esensi!
Begitu komentarmu sembunyi-sembunyi

Malam pergi, pagi tak kembali
Tak ada yang bisa kau baca lagi

Kursi Pesakitan

0
COM

"Ayah, kursi pesakitan itu apa sih? Kenapa namanya pesakitan?"
"Apaan sih anak kecil sok baca koran. Sini! Kursi pesakitan aja nggak tau. Kursi pesakitan itu kursi yang bikin sakit. Keras, tajem. Sakit deh pokoknya kalo duduk di situ."
Kau tersenyum pada kami. Berarti Abang benar?

Kupikir karena kursinya keras.

"Waktu kita tinggal satu hari, kau belum berhasil membujuknya? Bilang saja malam ini aku kena serangan jantung ya."

"Pesakitan..pesakitan adalah orang yang terkena hukuman; terdakwa. Oh! Kalo gitu kursi pesakitan artinya..akh sebel dulu aku percaya aja lagi diboongin sama abang! Awas kamu, Bang!" Kau tertawa terbahak-bahak. Kali ini aku yang benar.

Kupikir karena kursi itu untuk terdakwa.

"Kau bilang kau bisa diandalkan, tapi kenapa bukti-bukti itu masih ada?? Tolong bawa aku ke rumah sakit."

"Mentang-mentang udah SMP, berani ngambek ya sekaraang. Aku minta maaf deh. Yang penting kan sekarang kita duduk enak, nggak kaya pesakitan yang ketakutan masuk penjara. Baikan dong?" Kau tersenyum lalu menghampiri dan merangkul kami. Pertanda kita baik-baik saja.
  •  
Kupikir kursi itu mengantarkan orang ke penjara.

"Sidang udah ditunda tujuh kali tapi hasilnya nihil. Sekarang, percaya ya sama aku. Biar aku sendiri yang urus semuanya. Kamu jaga ayah aja. Kalau gagal lagi toh sama aja, aku tinggal masuk rumah sakit lagi dan bikin rencana baru. Rencanaku pasti berhasil. Aku nggak mau dipenjara! Aku nggak mau dipenjaraaa!" Topeng optimismeku pudar. Abang memelukku. Berusaha menenangkan. Kau hanya menangis.

Ternyata, karena kursi itu untukku.

Aku terduduk lemas di samping nisanmu. Sekarang aku paham betul apa itu pesakitan dan kursiku kini memang amat menyakitkan. Senyum dan tawamu memang selalu berarti benar. "Bang, aku mau nyerahin diri." Keputusanku benar kan, Ayah? Kau tersenyum kan di dalam sana?

Aku pesakitan dengan ketiadaan senyum dan tawamu sebagai hukuman.

Saat Orang Baik Bahagia

0
COM
Beberapa hari terakhir dapat kabar bahagia dari orang-orang di sekitar, mulai dari orang yang bener-bener deket, yang pernah deket, sampai orang yang cuma gue tau muka dan namanya. Menariknya, walau peristiwa gembira mereka (sebagian) bukan urusan gue, tapi gue (dan banyak orang lain) ikut seneng dengernya. Mereka yang bahagia, mereka yang ngalamin, nggak ada untungnya juga buat gue dan orang-orang lain, tapi kenapa kita semua bergembira bersama? Satu hal yang sama, mereka -yang membuat orang lain bahagia hanya dengan melihat mereka bahagia adalah orang-orang baik. Mereka, sadar atau nggak udah menginspirasi banyak orang dengan kehidupan yang mereka jalani. Mereka dicintai karena kepribadian yang menyenangkan dan gemar menyebar manfaat. Manfaat yang mereka bagi sesederhana melempar senyum dengan ikhlas atau seserius turun tangan memperjuangkan hak orang yang dirampas.

Mereka orang baik. Gue yakin, jauh sebelum label "orang baik" melekat pada diri mereka ada begitu banyak pengorbanan yang mereka buat untuk orang lain. Bahagia mereka mungkin melihat banyak orang bahagia. Masa bodo dengan kondisi diri sendiri. Pengorbanan dan keikhlasan dari hati sampai ke hati. Lahirlah mereka sebagai orang baik yang dicintai.

Keikhlasan itu layaknya pohon berbuah manis. Pohon mereka tumbuh kokoh dan berbuah lebat. Jika sebelumnya mereka berbahagia dengan membagikan buah-buah dari pohon mereka ke orang lain, sekarang buah itu langsung terjun ke mulut mereka. Puluhan buah berebut agar dimakan para tuan yang baik hati. :) Para tuan menerima dan menelan buah dengan senang hati. Bukan karena rakus, tapi karena memang sudah saatnya mereka merasakan sendiri manisnya buah dari pohon mereka. Nikmat Tuhan, siapa yang kuasa menolak?
 
Bahagia itu datang. Bukan dalam wujud kebahagiaan orang lain, tapi kebahagiaan atas dan bagi diri mereka sendiri. Tapi, emang dasar mereka orang baik. Orang lain yang sudah terlalu kenyang diberi buah oleh mereka pun turut bahagia melihat mereka asyik sendiri melahap buah. Tak ada yang menilai egois, apalagi mencibir penuh dengki. Pengorbanan dan keikhlasan mereka telah terukir di hati. Kini, mereka buat orang lain bahagia tanpa intensi, tanpa disadari, dan tanpa perlu berkorban lagi.
 
Selamat berbahagia wahai orang-orang baik sedunia! :D Izinkan aku menari di atas kebahagiaan kalian. Semoga kita terus menjadi pribadi yang lebih baik, aamiin.

Rindu di Malam Minggu

Rindu di malam minggu
Pada angka berlingkar mataku terpaku
Dayaku sebatas menghitung waktu
Menyilang angka satu per satu

Obat rindu hanya jumpa
Tak sembuh dengan uraian kata
Obat rindu hanya jumpa
Tapi pelukku sampai lewat doa

Kutitip rindu di langit sana
Ambilkan untukku
Kembalikan saat kita bersua
Di malam minggu pertama bulan kedua

Perihal Perizinan Menginap dan Pelajaran di Dalamnya.

0
COM
Izin menginap dari orang tua adalah salah satu hal yang paling sulit gue kantongin. Dari gue kecil, Ayah-Ibu emang selalu menekankan ke anak-anak mereka (baik gue atau yang cowok-cowok) kalo "nggak baik nginep-nginep". Jadilah gue hampir nggak pernah nginep di rumah temen atau sekolah.

Waktu kecil sih gue nggak masalah, toh gue juga nggak kepingin nginep-nginep di rumah temen. Tapi hal itu jadi masalah sejak sekolah gue mulai ngadain acara-acara yang pakai nginep. Pertama kali ada acara nginep di sekolah kalo nggak salah waktu kelas 6 SD, sekolah ngadain persami (perkemahan sabtu-minggu). Itu pertama kalinya gue nangis ngebujuk ortu untuk dibolehin nginep, tapi gagal. Padahal jarak rumah gue  ke sekolah  cuma 400 m yang berarti bisa ditempuh dengan jalan kaki 5 menit yang berarti deket. Banget. Tapi tetep ga boleh nginep. Yaudahlahya. Waktu itu akhirnya gue ikut persami, tapi jam 10 malam dijemput Ayah dan jam 5 pagi dianter lagi ke sekolah. x")

Di SMP, makin banyak acara-acara nginep sejenis. Bukan cuma jadi peserta, gue bahkan sering jadi panitianya karena saat itu gue jadi pengurus OSIS. Repot nggak tuh, lu yang bikin acara minta peserta nginep karena ada agenda malem tapi lu yang punya acara malah nggak nginep? Kalo diinget-inget, lucu juga. Temen-temen gue pasti sibuk ngebujuk gue untuk ikutan nginep tiap kali kita bikin acara. Mereka bahkan nekat ngubungin ortu gue dan langsung minta izin ke mereka. *ah, aku kangen kalian*

Masa-masa SMP bisa dibilang adalah masa-masa dimana gue paling sering marah, ngambek, dan "ribut" sama ortu. Dulu, kalau ada acara mau nginep, gue biasanya cerita ke ortu dan langsung nembak "boleh ikut ya?". Nggak berhenti di situ, gue pasti langsung ngejar jawabannya, "gimana? boleh nggak?" terus nanya sampe ortu ngasih jawaban-yang-biasanya-"nggak". Lama-lama gue belajar dari proses itu. Gue ubah cara minta izin gue ke ortu, gue ubah ekspektasi gue, niat gue, dan sebagainya. Banyak banget pelajaran yang gue dapet dari proses "meminta izin nginep ke ortu", yang baru-baru ini gue sadarin berguna juga buat hidup gue secara keseluruhan.

Belajar apa aja sih?
1. Belajar membaca situasi dan kondisi; kalo dulu gue bakal cerita dan langsung nodong nggak peduli sikon, setelah beberapa kali ditolak gue jadi lebih peka sama kondisi ortu terutama. Ayah lagi sibuk, ibu lagi banyak pikiran ntar aja ceritanya. Kita punya kepentingan, tapi inget kalo orang lain juga punya kepentingan. Satu lagi, bukan cuma kita yang butuh didenger dan diperhatiin, ortu juga butuh.

2. Belajar manajemen ekspektasi. Nah gue merasa jago banget nih soal beginian (hahaha antara pandai memanage ekspektasi atau emang pesimis). Tapi serius, gue itu orang yang penuh harap sekaligus nggak suka ngarep. Simpelnya, gue mau sesuatu maka gue berusaha dan berdoa, hasilnya mau gimana gue pasrahin sama Allah. Yep, gue terlatih ngelakuin ini dari proses minta izin nginep. Gue cerita ke ortu tentang acara/kegiatan gue, kasih penjelasan, jujur soal positif/negatif kegiatan itu sebagai Fathiyah yang "netral". Cerita dengan kalem, nggak menggebu-gebu, nggak buru-buru nuntut jawaban. Mindset gue pun udah gue set dari awal kalo pada akhirnya Allah yang nentuin, Allah yang tahu apa yang terbaik buat gue. Yang penting gue udah usaha, kalau nggak dibolehin ya nggak masalah. Dengan begini gue lebih ikhlas nerima apapun hasilnya.

3. Belajar sabar (baca: belajar digantung). Ortu gue, terutama Ayah bukan orang yang bisa dengan cepat ngambil keputusan. Apalagi soal hal-hal yang prinsipil kayak menginap. Banyak pertimbangan, dan nggak jarang bakal Ayah "sholatin" dulu alias sholat istikhoroh hehe. Awalnya gregetan sih, tapi lama-kelamaan terbiasa dan ngerti. Masih mending ortu mau mempertimbangkan keinginan kita untuk mengubah kebijakan mereka. Jadi, bersabarlah.

Begitulah. Nggak jelas banget ini tulisan arahnya kemana haha. Tiba-tiba kepengin nulis soal ini karena lagi bahagia banget setelah beberapa jam lalu dua peristiwa yang saling berhubungan terjadi begitu saja seakan ngasih lampu kuning kalau gue udah boleh jalan "ke sana". Doakan saja. Bismillah.

Ikut, Yah!

0
COM
Di suatu sore, ketika gue lagi sedikit merajuk karena nggak boleh ikut Ayah pergi ngelihat pesantren, Bibi memulai percakapan...
Bibi: Kak Nur, Tia cengeng gak sih waktu kecil?
Ibu: Banget. Sama orang takut, dideketin nangis. Ngeliat genteng rumah Jidah Umi aja nangis. Tuh Haji Oni (teman ayah) hafal banget deh, suka nanyain yang nangis mulu mana haha.
Bibi: Fataa (anak pertama bibi) juga gitu. Kayaknya semua anak pertama cengeng deh. Kak Nur dulu gitu juga nggak?
Ibu: Wah dulu Kak Nur nangis melulu. Penginnya ikut Aba' terus. Aba' kan dulu punya panglong, kalo Aba' ke panglong ibu pasti nangis2 minta ikut. 

Dengar cerita ibu, gue langsung cengar-cengir senang.
Gue: Tuh kan! Ibu aja kepengin ikut ayahnya terus. Pantes aja kalau Tia kayak gini.
Ibu: Eh! Ibu kan dulu, masih kecil..lah kamu sampe gede.
Gue: ....*iya juga sih*
Bibi: Mungkin itu karena ayah Kak Nur meninggal kali. Jadinya Kak Nur gak begitu terus.
Ibu: hahaha iya kali ya. (Jid meninggal saat ibu kelas 2 SD)

Sepenggal percakapan sore itu cukup membekas bagi gue. Cerita ibu tentang ia dan ayahnya ketika itu gue jadikan excuse buat apa yang gue alami. Yak, sejujurnya dari dulu gue suka sedih kalau di rumah nggak ada ayah terutama pas jam malam. Daripada gue di rumah tanpa ayah, lebih baik gue ikut ayah pergi. Begitu kira-kira jalan pikir gue. Jadi, gue sering banget minta ikut ayah ke sana-sini.

Kalau di post sebelumnya ngomongin dewasa, di sini malah masih kayak bocah dengan separation anxiety. Di luar beberapa target yang alhamdulillah mulai dan masih konsisten gue jalanin sejak kepala gue jadi 2 (baca: berusia 20 tahun), penyakit nggak mau jauh dari ayah ternyata masih suka muncul, nggak peduli umur. Bedanya, (sejak SMA) gue lebih bisa ngendaliin. Kalau nggak boleh atau nggak bisa ikut, yaudah dan munculnya cuma saat gue lagi geriyengan aja. Meski kadang-kadang, efeknya masih dimana gue bisa nangis sesegukan kalau nggak boleh ikut ayah. Efek gede ini sebenernya karena "penolakan" ayah gue terima saat gue lagi ada masalah lain. Nah itu yang sore itu gue alami.

Cengengnya gue nggak berhenti di sore itu aja. Besoknya, gue merencanakan untuk nggak masuk kuliah di salah satu hari di minggu ini. Minggu lalu badan emang lagi kurang sehat, mual-mualnya berlanjut sampe sekarang. Gue ngerasa butuh istirahat. Istirahat yang gue pengin bukan cuma tidur-tiduran di rumah, melainkan jalan-jalan. Sakit kok jalan-jalan. Ribet emang. Akhirnya gue ngebujuk ayah untuk pergi ke pesantren lagi pas besok gue bolos. Ke pesantren itu cuma nyesuaiin sama konteks aja sih, karena emang ayah bakal bolak-balik ke sana. Ayah nggak setuju dengan ajakan gue karena nggak cocok sama jadwal ayah. Yaudahlah, mungkin istirahat di rumah udah cukup buat gue.

Paginya...tak disangka tak dinyana, ibu cerita ke tante tentang pesantren dan tante tertarik mau lihat juga dan ngajakin pergi bareng hari itu. Mumpung ada mobil. Wiih! Gue langsung nguping dari kamar dan ngedenger ibu lagi laporan ke ayah, "hari ini aja gimana Yah? dijawab ayah dengan, "boleh..Fathiyah seneng banget deh tuh"  :))) *jejingkrakan di dalam kamar*
 
Eh, udah jam segini. Gue harus siap-siap karena satu jam lagi gue, ayah, ibu, dan keluarga tante bakal liat pesantren. Yep, today is the day. Insya Allah kebahagiaan ini bisa dipertanggungjawabkan, kok *lirik jadwal kuliah* Bolos bukannya istirahat malah ngeblog dan jalan-jalan muehehehe. Semoga hari ini menyenangkan!
Saat "Ikut, Yah!" disambut dengan "Ayok" saat itulah gue akan menjemput kebahagiaan yang tercecer di jalan

Menuju 20

0
COM
Saat kita mulai dewasa, bukan sekadar mainan rusak penyebab tangisan.
Bukan lagi takut kehabisan film kartun kesayangan yang buat gelisah.
Beranjak dewasa, perlahan tapi pasti, aku diperlihatkan banyak hal.
Mulai dari yang indah sampai yang menjijikan.
Beruntung, setiap hal diperlihatkan kepadaku dari berbagai sudut pandang.
Beberapa hal mutlak, sisanya relatif. Soal aksi-reaksi. Itu kupelajari.

Apakah aku siap jadi orang yang dibilang dewasa?
Apakah aku siap mengalami, bukan hanya melihat, berbagai hal dari yang indah sampai menjijikan?

Kecemasan seperti itu mulai sering muncul. Kalau sudah begitu, yang kulakukan hanya mengingat berbagai hal yang sudah kupelajari dan bertekad itu akan kuterapkan dalam kehidupan dewasaku. Biar bisa melompat lebih tinggi..dan kalaupun masih terjatuh -pasti, setidaknya jatuh ke lubang yang lain. Lumayan, menambah pengalaman dan pelajaran.

Saat kita mulai dewasa, saat itulah banyak hal tampak nyata.
Mungkin bukan keadaan yang berubah, hanya kita yang lebih peka dan menerima.
Menerima kalau beberapa hal bukan masalah, beberapa hal memang salah.
Saat kita mulai dewasa, saat itulah kita sadar kita nggak sendiri.
Karena dewasa bukan lagi soal diri sendiri. :)

Kerja Keras di Dua Ribu Tiga Belas

0
COM
Nggak kerasa udah beberapa hari gue ninggalin tahun 2013. Belum telat kan kalau kali ini gue mau bahas gimana suka duka hidup gue di tahun 2013. Hmm..mulai dari awal 2013. Waktu itu lagi liburan jelang masuk semester 4. Di situ, gue yang baru selesai jadi pengurus BEM, ditawarin oleh senior tak dikenal untuk gabung jadi pengurus inti kepanitiaan yang dia ketuai. Kaget sih. Usut punya usut, ternyata gue direkomendasiin sama senior anak BEM juga (Konspirasi ini! Tapi makasih Kak udah buka jalan ke sana).

Kerja pertama kali sebagai PI dengan mayoritas orang yang sama sekali nggak gue kenal rasanya tuh...superb! Itu kepanitiaan terbesar dan terlama yang pernah gue ikutin (acara September, persiapan udah mulai dari Januari dengan total panitia +/- 100). Luar biasalah bisa satu tim sama orang-orang yang keren banget.

Di awal tahun ini, orang tua ngembangin usaha jualan di rumah, dari cuma es teh jadi warung mini yang ngejual berbagai barang. Alhamdulillah. Kami jadi punya kegiatan baru jualan dan melayani pembeli. Menyenangkan!

Selama nyiapin acara tadi gue juga jalanin kuliah semester 4. Nggak ada yang gue inget tentang semester ini. Nah, memasuki liburan semester lagi, gue berniat untuk magang2. Tujuan utamanya: beli smartphone biar bisa pakai whatsapp dan gabung bersama anggota panitia yang lain hehehe.

Oiya, di awal tahun ini gue juga dapet amanah buat jadi kepala departemen mushola dan perpus. Kayaknya sih awal tahun hektik banget megang dua amanah baru itu. Tapi udah lupa juga gimana sensasi dari kehektikan waktu itu. Di departemen itu gue juga dapet keluarga kecil yang luar biasa. Mereka sangat bisa diandalkan. Di akhir kepengurusan mereka bahkan jauh lebih rajin kerja ketimbang gue. Maaf kan kelalaianku ya teman-teman.

Oke, pas liburan gue sempet magang atau cari uang di 3 tempat. Pertama, jadi surveyor sosro. Mall dan kuesioner tebel jadi mainan gue ketika itu. Kesannya? SERU BANGET. Pertama kali "kerja" ketemu sama orang baru yang ramah dan atasan yang bersahabat. Kerjaannya juga cukup menantang: mejeng di mall dan ngajak pengunjung buat jadi tester. Susah. Dari sana gue belajar buat lebih ngargaiin orang-orang yang kerjaannya bagiin flyer atau mau survey. Nggak ada salahnya kan luangin waktu buat ditanya-tanya bentar atau sekadar nambahin selembar kertas di tas kita. :) Yang "kecil" itu, bernilai banget buat mereka. Abis kerja di sana gue bisa beli hp. Yeay!

Abis itu gue jadi pengawas simak di SMA di Bekasi. Ternyata jadi pengawas cukup menegangkan, apalagi jadi peserta kali ya. Kelar kerjaan di sosro, gue magang di BSM. Ternyata lagi-lagi dapet job yang serupa tapi tak sama; divisi pengembangan (lupa nama aslinya). Kerjaannya? Ngurusin lembaran kuesioner yang udah terisi. Yap, ngolah data. Kalo sebelumnya ngambil data di lapangan, sekarang gue berjibaku depan kompi dengan segala program khusus statistika buat ngolah hasil survey. Ilmu yang didapet banyak, tapi di sini kita lebih terikat. 8-5. Nggak boleh pulang meskipun nggak ada kerjaan. Namanya juga di kantor ._./||

Pokoknya liburan itu kerja kerja kerja. Kepanitiaan juga makin banyak tuh acaranya karena hari H juga makin mepet. Nah, pas semester 5 udah mulai masuk, seinget gue dulu gue sempet ngerasa males dengan kegiatan kuliah yang gitu-gitu aja. Males atau capek. Atau mungkin karena terlalu larut di dunia baru yang terlanjur gue suka: dunia kerja.

Lepas bulan September, kepanitiaan selesai. Gue juga udah nggak ada kerja-kerjanya. Satu-satunya kerjaan gue tinggal Dmaps. Di sini nih kayaknya awal kelalaian gue. Gue yang ngerasa seneng sekaligus capek, diam-diam bahagiaaa banget pas udah nggak ada kegiatan lagi selain duduk anteng di kelas. Jadi lupa gitu kalo masih ada tugas di Dmaps. Eh iya, bulan-bulan ini juga bulan dimana saudara-saudara gue pada merantau buat mondok di pesantren masing-masing. Rumah jadi sepi. Ibu juga jadi sering sendirian ngurus warung dan rumah. Mungkin karena ini juga, gue jadi kaya balas dendam gitu setelah berbulan-bulan selalu pulang malem, selepas kepanitiaan bawaannya gue jadi pingin buru-buru pulang. Harus segera sampe di rumah. Jaga warung, nemenin ibu, ngobrol sama orang tua dan adek. Buat saling nutupin rasa kesepian akibat jumlah penghuni rumah berkurang.

Kuliah kuliah kuliah Dmaps..tau-tau dapet tawaran kerja lagi. Kali ini mainnya sama kompi lagi dan lebih "psikologi". Dari sini gue tau kalo yang gue pelajarin di kelas masih belum apa-apa dibanding pekerjaan psikolog di lapangan. Alhamdulillah sampe sekarang udah 3 bulan jalanin kerjaan ini. Gajinya? bisa buat ongkos ke Palembang 2 hari lagi hahaha.

Soal semester 5 sendiri, spesial bangetlah matkul di semester ini. Bisa tapi susah, tapi gue nggak tau susahnya apa. Hasilnya yaa nilai merosot tapi gue juga ga tau kenapa. Apa gara-gara sibuk kerja? Tsailah sibuk. Kalau kata ibu sih, "kurang ibadah, kamu." Bener juga.
Yah begitulah 2013 gue. Banyak kesempatan baru, pelajaran baru, temen baru, tanggung jawab baru, kegiatan baru, penghasilan baru, dan hape baru tentunya. :))

Satu kata buat tahun 2013? Kerja Keras! (dua kata boleh deh, ya). Alhamdulillah buat tahun yang penuh kejutan ini. Tahun 2014, jangan kalah kece ya! Semoga kegiatan dunia dan akhirat bisa lebih seimbang. Awal yang menyenangkan dengan pergi ke Palembang semoga bakal diikutin dengan hal-hal menyenangkan lainnya. Aamiin.