Selasa

Sudah sejak Jumat hari Selasa menghantuiku. Awalnya, Selasa seperti hari lainnya, antre teratur dalam barisan menunggu waktu tampil. Tapi tiba-tiba, kala suatu pemicu di Jumat pagi itu datang, Selasa merengek, minta perhatian, ingin tampil duluan. Walau dia tetap harus mengantre menunggu giliran, tapi dia sukses membuatku mengabaikan sisa Jumat, seluruh Sabtu, Minggu, dan bahkan Senin yang belum nampak.
Empat hari kusiakan hanya untuk Selasa.
Digantung memang tidak enak, Kawan!
Selasa cepatlah maju, tunjukkan penampilanmu. Apapun yang kau sajikan di atas pentas, aku siap menikmatinya. Asalkan itu sebuah jawaban, sebuah kepastian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar