Ibu (koma) Kota Ini

0
COM

Ibu, kota ini sibuk membungkus bingkis.
Mata manis, mulut sinis.
Mulut manis, hati amis.
Tak pernah jelas ada apa di balik tawa dan tangis.
Kau hapal kan, Bu, aku tak mau memakai rok polkadot jika motif bajuku garis-garis.
Sekarang, segalanya tak harmonis.

Ibu, kota ini hobi memelintir.
Aku terlalu lemah mencerna satir.
Pun tak cukup peka didamprat sindir.
Tak ada yang dapat dipahami oleh anakmu yang pandir.
Aku rindu omelanmu yang panjang itu, Bu.
Jernih. Amat jernih meski seribut petir.

Ketulusan yang kau junjung sekadar kujinjing.
Prasangka baik yang kau gadang kusempilkan di gudang.
Benda-benda itu terlampau usang di kota yang kini asing.
Kalah prestis dibanding pemikiran dan laku 'kritis.'
Aku hanya ikuti aturan main.
Jika tak sanggup melawan, menyamarlah menjadi kawan. Aman.

Ibu, kota ini ternyata tak semenyenangkan yang kau bicarakan.
Kejujuran dan ketulusanmu yang kurindukan.
Percaya dan maaf yang kau tanam tak lagi tumbuh.
Mungkin hanya sorot lembut matamu dan senyummu yang teduh yang membuat kami luluh.

Dear All Family

Pengalaman magang di salah satu panti rehabilitasi narkoba tepat di bulan Ramadhan tahun lalu masih meninggalkan banyak kesan. Tadinya mau cerita soal hal itu di sini, tapi karena berbagai pertimbangan akhirnya mutusin untuk nggak dishare di sini. Biarlah jadi kenangan manis di hati aja. (?)

Meski begitu, untuk mengabadikan momen seberharga itu gue ngerasa perlu meninggalkan sedikit jejak tentang mereka, para famili tercinta ("Famili" adalah sebutan yang mereka gunakan untuk menyebut diri mereka sesama residen pecandu narkoba yang lagi direhabilitasi).

Untuk mengingatkan diri gue tentang mereka, gue cuma bisa bilang

Masa lalu mereka gelap. Masa depan mereka tak ada yang tahu. Yang kutahu, mereka tengah merangkak keluar dari kegelapan. Mencoba meraih cahaya tuk masa depan.

Kita sama dengan mereka, hanya saja...
Saat cahaya kita mulai redup, ada banyak yang siap membagi cahanya.
Saat cahaya kita hampir padam, kita ingat akan cahaya di atas sana yang tak pernah mati.
Saat cahaya kita habis dan gelap benar-benar datang, kita ingin dan mencari terang.

Entah pada kondisi yang mana mereka dulu, namun kini mereka mencari terang. Mereka ingin dan butuh cahaya.

Untuk kita yang punya dan tahu keberadaan cahaya, jadikan cahaya itu sebaik-baiknya cahaya. Cahaya yang bukan hanya membuat diri kita terlihat, melainkan juga membuat kita bisa melihat segala yang ada di depan mata. Termasuk keberadaan orang seperti mereka.

Dear all family, tetaplah berjuang. :)
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah, Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. An-Nisa: 100)

Ujian atau Azab?

0
COM
Jangan bersedih. Tuhan sedang mengujimu.
Kau akan naik kelas jika kau berhasil dalam ujian ini.

Akhirnya, kau rasakan sendiri akibatnya! Azab Tuhan nyata.
Kini Dia tunjukkan kemarahan-Nya padamu.

Ini tanda sayang atau balasan dosa?
Tak satu pun kebaikan ada dalam ribuan dosaku.
Sebaliknya, ribuan dosa serta dalam kebaikanku yang satu.
Racun dan penawar hati tak jarang saru.

Aku tak sempurna dalam menghitung nikmat-Mu.
Yang kuminta tapi tak Kau beri kadang terlihat lebih dari yang Kau beri tanpa pernah kuminta.
Aku tak sempurna dalam merayu-Mu.
Merasa sering menjura, padahal hati lebih sering mendua.
Aku tak sempurna dalam memohon ampun.
Tangisku kala mengingat dosa tak lebih keras dari tawaku akibat dunia.

Ini tanda sayang atau balasan dosa? Aku tak punya jawaban tepat.
Yang aku punya hanya keyakinan bahwa Kau Maha Penyayang dan Maha Pemaaf.


Ditinggal Kelas Pertama

0
COM
Pagi tadi, pertama kali ke sekolah lagi setelah liburan akhir tahun ajaran. Setelah sampai depan pintu sekolah, gue kembali deg-degan. Rasanya sama kayak enam bulan lalu waktu mau memperkenalkan diri di depan anak-anak hehe. Bedanya, pagi tadi deg-degan gue lebih ke nggak sabar ngeliat kembali ekspresi menggemaskan para bocah, terutama anak kelas B yang selalu semangat nyambut kedatangan gue di depan pintu. Iya, sepanjang semester lalu mereka emang sering dateng lebih pagi dari gue.

Jelang masuk pintu sekolah, gue udah siap denger suara tinggi Malvino, "Kak Patiyaaah!" sambil lari ke arahku. Teriakannya seolah jadi komando bagi anak-anak lain untuk ikut lari menghampiri gue.

Di kepala gue udah kebayang sosok Al ngibrit buru-buru rapiin mainan, sebelum ikutan nyerbu ke arah gue. Antrean yang tadinya rapi, mendadak kisruh karena Al ngedorong teman-temannya dari belakang.

Kalau liat hal itu, sebelum gue sempat buka mulut, Deswita bakal udah lebih dulu ngomel, "Al kamu mah, ngantri dong! Sakit tau didorong-dorong."

Di saat anak lain sibuk dorong-dorongan, Zema cuma colek-colekan dari belakang sambil ngelirik-lirik gue. Dia anaknya emang kalem, tapi suka mau ikutan heboh kayak anak-anak lain meski jadinya keliatan kikuk. :')

Gavin juga cuma colek-colek dari belakang. Bedanya, di saat yang lain udah pada berhenti dorong-dorongan, dia justru suka mancing keributan lagi.

Setelah kerumunan bubar, Mirza baru mendekat, nyalim, lalu laporan, "Kak, masa tadi si itu lalala, si anu lilili." Anak lain pasti kepancing untuk laporan juga. Heboh lagi.

Biasanya, semua baru diam setelah dengar salam Mihdan yang datangnya selalu paling akhir. Tapi diamnya bentar doang, Mirza selalu punya banyak kisah untuk disetor tiap pagi haha. "Kak, aku udah daftar SD dong..Yes yes sebentar lagi masuk SD." Yak, heboh lagi. Begitu terus setiap hari.

Kanan-kiri: Gavin, Malvino, Mirza, Zema, Al, Deswita, dan anak kelas A angkatan 2014-2015.

Tapi pagi ini berbeda. Saat gue buka pintu dan masuk kelas...krik. Nggak ada yang jawab salam. Di kelas cuma ada 2-3 orang yang nggak gue kenal wajahnya. Bengong sampai akhirnya tersadar...ini tahun ajaran baru. Anak-anak kelas B semester lalu ya udah pada SD lah. Ternyata gini rasanya "ditinggal" anak yang bahkan cuma anak murid. Nggak kebayang pas jadi ibu dan "ditinggal" anak beneran nanti kayak apa. #naonFath

Hari pertama tadi berjalan agak berat. Anak-anak baru masih belum bisa lepas dari orang tuanya, masih susah dideketin. Tapi, capek seketika lenyap saat jelang pulang sekolah terdengar suara dari depan pintu, "Kaaaak! Sini! Mau nyalim,"

Aku. Bengong. Tapi. Hati. Plong. Nyeeeess.

MIRZA! Pakai seragam merah-putih! Senang, nggak nyangka, bangga, terharu. Rasanya seakan-akan dia udah dewasa, gagah aja gitu pakai baju SD hahaha.

Mirza udah jadi anak SD :")
Seperti biasa, usai nyalim, dia memborbardir gue dengan cerita-ceritanya. "Aku nggak jadi sekolah di Kwini, aku jadinya sekolah di Kenari. Guru aku namanya Ibu A dan B. Yang Ibu B galak." FYI, SD Kenari itu SD-ku dulu, dan ya Ibu B emang galak. :)))

Begitulah Mirza. Dua hari jadi murid SD. Baju putih-merahnya masih bersih. Ceritanya masih menggebu. Senyumnya masih lebar. Sorot matanya masih bersinar. Gerak tubuhnya masih lepas. Dan cita-citanya masih jadi tentara.

Setelah waktu bergulir, kuharap hanya seragamnya saja yang lusuh. Cukup warna merah dasinya saja yang memudar. Keceriannya tidak. Cita-citanya hampir pasti akan berubah. Tapi semoga bukan karena semangatnya melapuk dimakan rayap-rayap bangku sekolah.

Harapan yang sama untuk Al, Malvino, Zema, Deswita, Mihdan, dan Gavin. Aku kangen kalian. Makasih ya udah ngajarin aku banyak hal. Maaf kalau kehadiranku mungkin menciderai proses tumbuh-kembang kalian. Selamat tumbuh belajar dan berbahagia, Boboiboy-nya aku :D

Kebetulan

Dalam hidup sehari-hari, pasti banyak hal yang (seakan-akan) terjadi begitu saja dan tanpa disengaja alias ke-be-tu-lan. Beberapa "kebetulan" mungkin berarti, tapi banyak juga "kebetulan" lain yang nggak ada artinya. Terjadi. Tanpa tindak lanjut. "Kebetulan" yang terjadi tanpa tindak lanjut ini yang biasanya dianggap sebagai "kebetulan" semata. Padahal, nggak ada yang namanya kebetulan. Semua hal terjadi di waktu dan tempat yang udah Allah atur. Cuma kita aja sebagai manusia yang kadang nalarnya nggak sampai buat ngambil kesimpulan dari kejadian tertentu.
Gue sering ngalamin "kebetulan" yang pada akhirnya gue sadari bahwa itu bukan kebetulan. Mulai dari kejadian yang simpel kayak: biasanya langsung nyuci baju tapi ini nggak karena lupa, ternyata besok ujan seharian dan besokannya lagi baju itu mendadak harus dipakai. Alhamdulillah  lupa nyuci, kalau nggak dan pas mau dipakai masih basah?

...sampai "kebetulan" yang besar, yang pada akhirnya bikin kepala geleng-geleng saking takjubnya. Ya seperti itulah.
 
"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari Tuhan" -Ayu Utami

Fathiyah, baru tau makna "kebetulan" yang terjadi setahun lalu.